KEPALA Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengungkapkan realisasi target pertumbuhan ekonomi sesuai postur anggaran 5,7% sulit untuk dicapai. "Masih agak berat karena ini tahun transisi, penyesuaian pemerintah baru pasti ada perubahan kebijakan, prioritas juga mungkin agak beda, dan kita kebuang satu kuartal hanya untuk tender-tender," ujarnya saat ditemui dalam acara Institute of International Finance Asia Summit di Hotel Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Kamis (7/5).
Dari perhitungan Bank Mandiri, Destry meyakini pertumbuhan sepanjang tahun ini masih di atas 5% atau di 5,3%. Sementara di kuartal II diprediksi di 5,5%. Risiko-risiko yang perlu dimitigasi, menurut pandangannya, mulai dari harga komoditas yang jatuh terlalu dalam dan proyek infrastruktur yang tidak jelas. Inflasi perlu dijaga mengingat hal itu berpengaruh pada mata uang rupiah dan akan mempersulit Bank Indonesia menurunkan suku bunga.
"Kondisi yang terjadi sekarang baik swasta dan konsumen sama-sama wait and see, investor butuh kepastian proyek infrastruktur, konsumen masih melihat suku bunga," paparnya. Investor melihat ada perubahan nomenklatur atau tidak lalu konsumen menunggu keputusan The Fed Rate akan meningkat atau tidak.
Kekhawatiran konsumen terbukti dengan banyak dana pihak ketiga di bank sedangkan kredit masih melemah karena investor belum berani ambil keputusan. Meski kredit yang melemah tidak menunjukkan bahwa minat investasi ke Indonesia menurun mengingat potensi Indonesia di mata dunia tidak bisa diabaikan.
"Maka kuncinya di kuartal II tapi optimalnya Juni, baru kelihatan saat itu," tambah Destry. Kebijakan fiskal dan moneter juga diharapkan dapat segera bersinergi untuk dorong pertumbuhan. Dari sisi fiskal, stimulus APBNP menjadi hal yang ditunggu-tunggu terutama stimulus biaya infrastruktur sebesar Rp290 triliun di APBNP. Kemajuan proyek infrastruktur dilihat dapat membawa kepercayaan positif bagi investor.
Bank Indonesia sebagai pihak yang fokus pada kebijakan moneter mau tidak mau harus mulai melonggarkan kebijakannya. "Bisa melalui Loan to Value atau Down Payment atau reserve recruitment ratio kayak Tiongkok," lanjut Destry. Hal itu mengingat jarak antara suku bunga acuan Bank Indonesia dengan Amerika Serikat masih jauh. Pelaksanaan bisa dilakukan bertahap karena kondisi ekonomi global yang kompleks masih akan mengikuti risiko yang masih tinggi.
"BI rate bisa turun 25 basis poin di kuartal II, sedangkan rencana BI dan OJK untuk turunkan DP itu akan positif," sahutnya. Satu hal lagi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dari pemberesan undang-undang tanah. Meski terbilang masalah klasik, bila undang-undang tanah telah selesai maka akan ada kestabilan politik. Dengan begitu efek kepada peningkatan aktivitas ekonomi akan terjadi.
Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin menyatakan pertumbuhan ekonomi yang melambat di kuartal I perlu dilihat positif karena tidak separah 2008 lalu. Saat itu GDP turun dari 6,2% ke 4,5%. "Saya sendiri lihat ke depan recoverynya akan segera datang karena bank kita terima aplikasi kredit, dalam empat bulan terakhir sudah ada juga Rp10 triliun proyek infrastruktur BUMN sudah disetujui," jelas Budi.
Dikatakan, target pemerintah untuk tumbuh sepanjang tahun lebih dari 5% masih masuk akal. Jika memasang target terlalu tinggi bisa dipastikan akan berpengaruh ke kepercayaan masyarakat. Pertumbuhan di kuartal I 4,7% juga dikatakan Budi lebih tinggi ketimbang negara-negara lain. Di kuartal II dia kembali optimis pertumbuhan ekonomi akan meningkat karena ruang fiskal pemerintah masih besar. Hal itu akan bertambah naik jika pemerintah mengeluarkan insentif atau kick off dari proyek infrastruktur.(Q-1)