Bukan Hal Mustahil Lepas dari Candu Energi Fosil

MI/TESA OKTIANI
24/3/2015 00:00
Bukan Hal Mustahil Lepas dari Candu Energi Fosil
(GRAFIS/EBET)
DI tengah dampak pemanasan global akibat eksploitasi sumber daya alam besar-besaran, tengok sejenak Kosta Rika, negara kecil seluas 51.100 km2 di kawasan Amerika Tengah. Produsen kopi nomor tiga di dunia itu boleh berbangga lantaran mampu melistriki warganya dengan tenaga air dan berhenti mengonsumsi energi fosil.

Itu merupakan langkah nyata negara di pesisir Laut Karibia tersebut pada upaya penyelamatan lingkungan. Pasalnya, selama 75 hari berturut-turut, Kosta Rika berhasil menyetop pemakaian bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam sebagai penggerak turbin pembangkit listrik mereka. Capaian itu berkat hujan deras yang turun terus-menerus sehingga pengoperasian empat pembangkit listrik sejak Desember 2014 murni digerakkan tenaga air.

Demikian diungkapkan lembaga riset kelistrikan pemerintah, Costa Rican Electricity Institute.  Kendati demikian, curah hujan itu pun tidak dijadikan andalan.

"Pemanfaatan tenaga air tidak bisa terus-menerus. Perubahan musim memengaruhi aliran air yang selama ini dipakai untuk membangkitkan tenaga listrik," ujar Jake Richardson dari Clean Technica seperti dikutip situs Independent.co.uk, kemarin.

Karena itu, pemerintah tetap mengembangkan sumber energi terbarukan lain. Kebijakan energi bersih memang sudah melekat pada negara berpopulasi 4,8 juta jiwa itu.

Sebelumnya, pada 2014 tercatat 80% energi nasional berasal dari tenaga air dan 10% panas bumi. Kini 94% pasokan energi negara berasal dari energi terbarukan.

Panas bumi dari anugerah deretan gunung berapi di negara itu juga telah dimanfaatkan. Di medio 2014, proyek panas bumi senilai US$958 juta sudah disetujui. Di tahap awal, proyek pembangkit listrik berdaya 55 megawatt (Mw) itu bisa memasok kebutuhan listrik 55 ribu rumah tangga. Angka itu akan meningkat bila dua pembangkit lain berdaya 50 Mw juga telah beroperasi.

Hal itu seiring dengan target Kosta Rika menuju level carbon neutral pada 2021. Mereka ingin nihil dari emisi karbon dioksida. Upaya itu diperkukuh dengan keengganan pemerintah mengeksploitasi cadangan minyak yang ditemukan di sepanjang garis Pantai Karibia. Meski cadangan emas hitam itu sangat fantastis, Kosta Rika tidak tergoda untuk mengebor ladang minyak itu dengan alasan melindungi lingkungan.

Tekad itu pun menahbiskan mereka di rangking kedua negara dengan penataan infrastruktur, pembangkit listrik, dan jaringan telekomunikasi yang prolingkungan setelah Uruguay dalam Global Competitiveness Index 2014 versi Forum Ekonomi Dunia.

Dengan limpahan sumber energi terbarukan yang lebih banyak dan bervariasi, Indonesia layak untuk belajar pada Kosta Rika. Karena sejatinya tanpa harus menunggu energi fosil menjadi nihil, melepas ketergantungan itu bukan hal mustahil. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya