Di Tengah Tekanan Global, Stabilitas Keuangan Terjaga

Nur Aivanni
31/7/2018 20:48
Di Tengah Tekanan Global, Stabilitas Keuangan Terjaga
(ANTARA)

MENTERI Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa bahwa stabilitas sistem keuangan Triwulan II 2018 tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan yang berasal dari global.

Demikian disampaikan Sri Mulyani berdasarkan hasil pemantauan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan dan penjaminan simpanan selama Triwulan II Tahun 2018.

"KSSK menyimpulkan bahwa stabilitas sistem keuangan Triwulan II 2018 tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan yang berasal dari global," katanya, di Aula Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (31/7).

KSSK, sambungnya, melihat bahwa kondisi fundamental serta stabilitas perekonomian dan sistem keuangan masih terjaga. Hal itu ditunjukkan oleh tingkat inflasi yang terjaga, likuiditas sistem keuangan yang mencukupi, cadangan devisa yang masih memadai, tingkat defisit APBN yang terkendali dan surplus keseimbangan primer dan kinerja perbankan yang membaik.

"Namun, KSSK mencermati adanya tekanan pada nilai tukar dan surat berharga negara terutama yang berasal dari ekspektasi lanjutan kenaikan Fed Funds Rate dan sentimen dari perang dagang antara pemerintah AS dan mitra dagang utamanya," terangnya.

Sementara itu, di bidang fiskal, Sri Mulyani mengatakan bahwa kinerja APBN tahun 2018 hingga semester I Tahun 2018 sangat baik. Pendapatan negara dan hibah mencapai 44% dari target APBN 2018. Capaian tersebut lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya sebesar 41,5%.

Adapun realisasi belanja negara mencapai 42,5% dari target APBN 2018. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2017 sebesar 41,9%. Hingga akhir Semester I, defisit anggaran tercatat sebesar 0,74% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,29%.

Hingga akhir Semester I Tahun 2018, sambung Sri Mulyani, keseimbangan primer tercatat surplus sebesar Rp 10 triliun. Ia pun mengatakan bahwa defisit pada akhir tahun 2018 diperkirakan 2,12% terhadap PDB. Hal itu lebih rendah dari target APBN 2018 sebesar 2,19%. "Kementerian Keuangan optimis dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN sampai dengan akhir tahun," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya