KSSK Antisipasi Ketidakpastian Perekonomian Global

Nur Aivanni
31/7/2018 20:17
KSSK Antisipasi Ketidakpastian Perekonomian Global
(MI/Adam Dwi)

KOMITE Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencermati adanya tekanan pada nilai tukar dan surat berharga negara terutama yang berasal dari ekspektasi lanjutan kenaikan Fed Funds Rate dan sentimen dari perang dagang antara pemerintah AS dan mitra dagang utamanya.

Untuk mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa KSSK telah melakukan asesmen dan mitigasi terhadap berbagai potensi risiko yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Di bidang moneter, lanjutnya, BI memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dalam menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus menjaga momentum pemulihan ekonomi.

"Suku bunga kebijakan Bank Indonesia dinaikkan sebesar 50bps menjadi 5,25% pada 29 Juni 2018, sementara pelonggaran kebijakan Loan to Value Ratio dilakukan untuk mendorong sektor perumahan," katanya.

Bank Indonesia, sambungnya, juga terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar. Adapun nilai rupiah saat ini tercatat Rp 14.420 per dolar AS atau melemah 6% ytd.

"Itu lebih rendah dibandingkan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brazil dan Turki," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DK OJK Wimboh Santoso menambahkan bahwa OJK terus mencermati tekanan eksternal yang berpengaruh terhadap kinerja pasar keuangan domestik. IHSG sampai dengan akhir Triwulan II, sambungnya, mengalami pelemahan yang diiringi dengan aksi jual non-residen.

"Sementara itu, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan secara umum mengalami moderasi walau masih terjaga. Dari sisi resiko, OJK menilai risiko yang dihadapi lembaga jasa keuangan masih berada pada level yang manageable," terangnya.

OJK, lanjutnya, akan terus memantau dinamika perekonomian global dan dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional. Selain itu, OJK juga akan mengambil policy measures yang tepat dalam hal tekanan di pasar keuangan terus berlanjut.

Dalam jangka menengah dan panjang, Wimboh mengatakan OJK akan terus mengupayakan peningkatan fungsi intermediasi melalui beberapa opsi kebijakan. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan industri yang berorientasi ekspor, pembiayaan kepada proyek infrastruktur, dukungan terhadap pengembangan sektor pariwisata dan perumahan.

"OJK juga akan mengupayakan penguatan terhadap ketahanan pasar keuangan domestik antara lain melalui upaya pendalaman pasar keuangan baik dari sisi permintaan maupun penawaran serta penguatan infrastruktur pasar," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya