Rapot Merah Kuartal Satu Pacu Pemerintah Berbenah

Fathia Nurul Haq
05/5/2015 00:00
Rapot Merah Kuartal Satu Pacu Pemerintah Berbenah
( ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut memang telah diprediksi sebelumnya. Pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi 5,7% untuk 2015"Memang BPS merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I 4,71%. Tetapi ini kuartal satu, yang target itu setahun, masih ada 3 kuartal lagi yang harus kita perbaiki," katanya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/5). 

Sofyan menganalisis sejumlah komponen yang mengakibatkan pelambatan laju pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pemerintah akan berupaya keras menggenjot pertimbuhan di tiga kuartal berikutnya.

"Komponen apa yang menyebabkan kontraksi, yang pertama tambang itu yg paling besar. Karena jatuhnya harga komoditi. Kedua, ekspor melemah tapi impor juga melemah. Melemahnya ekspor, karena tujuan ekspor Tiongkok, Eropa melambat juga. Tiongkok hanya tumbuh 7%, biasanya double digit. Jadi jatuhnya harga komoditas dan lemahnya negara tradisonal ekspor melemahkan negatif pertumbuhan di ekspor," papar Sofyan.

Terkait investasi pemerintah yang melambat, Sofyan berkilah itu diakibatkan oleh terlambatnya realisasi APBN. Situasi tersebut diperkirakan akan membaik setelah penyerapan APBN digenjot di kuartal kedua.

"Investasi pemerintah yg melambat itu karena terlambat merealisasi APBN. Ini karena pemerintah baru memulai dengan APBNP yang baru selesai Februari. Kemudian ada perubahan nomenklatur, di birokrasi tidak bisa teken kecuali diganti. Di tempat saya ada 5 deputi saya lantik ulang orang yg sama. Tapi pelantikan itu kan harus ada Keppres. Maka akibatnya nomenklatur dan APBNP, investasi pemerintah melambat. Maka investasi pemerintah dianggap perlambatan ekonomi. Ini kita kejar semua," terangnya.

Salah satu komponen pelambatan pertumbuhan ekonomi, yakni turunnya ekspor impor juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Menurut BPS, dibanding periode yang sama tahun lalu, ekspor turun sebesar 0,53 persen, sedangkan impor turim 2,20%. "Ekspor kita harus agresif ke negara non tradisional selain Cina dan Eropa," katanya. Kedua, melemahnya permintaan ini sebenarnya secara over all karena penurnnan permintaan karena menurut IMF seluruh negara berkembang melambat. Tapi ada pasar yang market sharenya lebih kecil maka akan kita dorong di kuartal II sampai IV," janji Sofyan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal I adalah referensi bagi pemerintah untuk berbenah. "Maka pertumbuhan Q1 4,71% kami sudah rasakan di pemerintah hal yang harus kita perbaiki," ujarnya. (Fat/E-2)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya