Husky dan PG Sepakati Jual Beli Gas

Tjahyo Utomo
01/5/2015 00:00
Husky dan PG Sepakati Jual Beli Gas
(--(ANTARA/Ismar Patrizki))
PT Petrokimia Gresik akhirnya mendapat jaminan pasokan gas dari Husky-CNOOC Madura Limited untuk pabrik baru amoniak-urea II di Gresik Jawa Timur.

"Setelah melewati berbagai proses negosiasi untuk mendapat jaminan pasokan gas, akhirnya kita berhasil menghasilkan kesepakatan jual beli gas dengan Husky," kata Direktur Utama PT Petrokimia Gresik (PG) Hidayat Nyakman usai penandatangan kesepakatan dengan Husky CNOOC Madura Limited di Jakarta, Kamis (30/4).

Dalam perjanjian jual beli gas itu disebutkan, Husky menjamin pasokan gas dari lapangan MDA-MBH, Madura, sebanyak 85 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sedangkan harga jual beli gas tersebut disepakati US$6,5 per MMBTU (million metric british thermal unit). "Selain harga US$6,5 itu juga disepakati eskalasi kenaikan harga sekitar 2,5% per tahun," jelas Hidayat.

Menurutnya, pasokan gas itu menjadi bahan baku pabrik Amoniak-Urea II PG yang saat ini sedang dalam proses pembangunannya. Dengan adanya jaminan pasokan gas untuk pabrik baru tersebut, kapasitas produksi urea dan amoniak PG dipastikan mampu menutupi kekurangan pupuk urea di Jawa Timur dan sekitarnya.

Hidayat  menjelaskan saat ini kapasitas produksi amoniak yang ada hanya 445 ribu ton/tahun, padahal PG membutuhkan 850 ribu ton amoniak/tahun untuk bahan baku pupuk urea dan NPK Phonska.

"Selama ini untuk menutupi kekurangan amoniak tersebut, kami impor dari PT Pupuk Kalimantan Timur dan Iran," ujarnya.

General Manager Husky CNOOC Madura Limited Huang Chunlin memaparkan dengan tuntasnya negosiasi jual beli gas dengan PG, pihak Husky akan berusaha segera mengalirkan gas ke pabrik baru Amoniak-Urea II yang dijadwalkan rampung Agustus 2017.

"Kita akan persiapkan gas yang akan dialirkan meskipun mungkin ada keterlambatan sekitar 2 bulan dari jadwal yang seharusnya," kata Huang.

Ia memahami pentingnya pasokan gas bagi pabrik baru PG, utamanya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. "Kami memahami industri pupuk sangat strategis bagi ketahanan pangan Indonesia. Karena itu kami mendukungnya dengan memasok gas," ujar Huang.

PG Memulai Pembangunan

Pabrik amoniak-urea II pada Februari 2015 dengan nilai investasi awal US$661 juta. Dengan pabrik baru ini, PG bisa menghemat US$16 juta per tahun untuk transportasi (shipment) saja. Asumsi tersebut berdasarkan perhitungan biaya pengapalan amoniak yang mencapai US$40/ton dan volume impor sebesar 400 ribu ton/tahun.         

Rencananya, pabrik amoniak-urea II tersebut akan mulai beroperasi sekitar Agustus - Oktober 2017 dengan kapasitas produksi amoniak mencapai 200 ton/hari atau 669 ribu ton/tahun dan pupuk urea sebesar 1.725 ton/hari atau setara dengan 570 ribu ton/tahun.

Kontrak pembangunan pabrik tersebut dimenangkan konsorsium Wuhan Engineering dan PT Adhi Karya.

Kredit BNI

Untuk membangun pabrik kedua, selain mendapat kucuran kredit dari PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia sebesar US$661 juta, PG juga akan mendapat kredit antara lain dari BNI 46 sebesar Rp3 triliun dan CIMB Niaga sebesar Rp1,5 triliun.

Hidayat sendiri berharap akan mendapat tambahan kredit dari bank nasional lainnya sebesar Rp1-1,5 triliun lagi. "Pembiayaan sebagian besar 70 persen dari sejumlah bank, dan sisanya 30 persen dari internal," ujarnya.

Dengan pembangunan pabrik ke-2 tersebut, maka total kapasitas produksi urea Petrogres mencapai sekitar satu juta ton per tahun, sehingga akan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pupuk urea di Jawa Timur yang mencapai 1,2 juta ton/tahun, di samping pupuk majemuk dan pupuk lainnya seperti SP-36, ZA, dan KCL. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya