(Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Iskandar Zulkarnain--(MI/Susanto))
KONDISI laut Indonesia yang lebih luas dari daratan belum dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Bahkan laut tidak ditempatkan sebagaimana mestinya. "Kita sudah lama menempatkan laut di beranda belakang padahal lautan kita amat luas dari daratannya.Maka sudah sepantasnya laut menjadi beranda depan kita bahwa masa depan kita salah satunya dengan pemanfaatan potensi kelautan," kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain dalamt sambutannya pada peluncuran buku "Kenangan Gerak Langkah Prof Dr Aprilani Soegiarto dalam Pengembangan Ilmu Kelautan dan Sumber Daya Manusia," di gedung LIPI Jakarta, Kamis (30/4).
Acara tersebut dihadiri Menko Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo dan sejumlah mantan kepala LIPI. Menurut Zainal Iskandar, langkah Presiden Jokowi dengan mengutamakan pembangunan poros maritim merupakan langkah tepat. Untuk itu, kata dia, salah satu langkahnya adalah membangun pilar yaitu dengan mengembangkan budaya maritim.
"Kita harus membangun budaya maritim dengan menengok sejarah seperti masa Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang menguasai lautan," ungkapnya. Namun ironisnya yang terjadi selama ini budaya dan persepsi kita terhadap laut sebagai sesuatu yang sulit yang di identik dengan kemiskinan dan kesusahan sehingga tidak menarik. "Maka solusinya, kita membangkitkan budaya maritim," cetusnya. Selain itu, harus dilakukann pemanfaatan sumber daya laut dan pembangunanan infrastruktur maritim. "Terpenting juga negara mesti hadir dan melakukan diplomasi kelautan dengan baik," tegasnya.
Komitmen Terkait sosok Aprilani yang telah memasuki usia 80 tahun itu, ia menilai sebagai seorang pakar dalam penelitian oseanografi. Prof Aprilani telah mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkomitmen dan berorientasi jangka panjang bagi pembangunan kelautan Indonesia.
“Selama lebih kurang 40 tahun, ia mencurahkan tenaga, pikiran dan karya yang tidak ternilai untuk ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang kelautan yang bermanfaat bagi pembangunan sektor maritim. Bahkan di masa purnabaktinya pun, beliau masih tetap berkarya dan memberikan kontribusi pemikiran untuk kelanjutan pembangunan kelautan Indonesia,†ujarnya
Iskandar menyatakan peluncuran buku kenangan Prof Aprilani menandakan salah satu ilmuwan terbaik yang memiliki rekam jejak pengabdian tidak terbantahkan sepanjang karirnya di bidang penelitian kelautan. Plt Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (LIPI) Zainal Arifin menambahkan jasa Prof. Aprilani patut diapresiasi turut memfasilitasi berdirinya Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI).
“Jauh sebelum sektor maritim mendapat perhatian pemerintah seperti saat ini, LIPI telah melakukan berbagai kegiatan untuk mengeksplorasi dan menggali potensi sektor kelautan Indonesia,†ujarnya. Zainal yang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Oseanogradi LIPI menyebutkan, riset kelautan Indonesia secara kelembagaan telah dimulai sejak tahun 1905, saat didirikannya Visscherij Station te Batavia di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Stasiun perikanan inilah yang kemudian melahirkan Lembaga Oseanologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian Oseanografi LIPI).
“Dan, Prof Aprilani pun menjadi bagian dari Pusat Penelitian Oseanografi dan mengembangkan ilmu kelautannya hingga menjadi pakar seperti sekarang,†pungkasnya. Sedangkan Indroyono Susilo mengakui sosok Aprilani telah berkontribusi dalam pembangunan kelautan Indonesia. "Saya selama 30 tahun bersinggungan dengan beliau, kita akui beliau memang pakar kelautan kita yang handal," kata Indroyono.
Dia berpesan kepada LIPI agar setiap guru besar LIPI yang sudah purna tugas berbagai karya dan koleksi risetnya dapat disimpan rapi di tempat khusus di gedung LIPI. "Kita sepakat harimau mati meninggalkan belang maka kita ilmuwan meninggalkan karya," pungkas Indroyono. (Q-1)