Target Ekonomi Tumbuh 6,4%, Pemerintah Perlu Kerja Keras
Irene Harty
29/4/2015 00:00
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
PRESIDEN Joko Widodo saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2015 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (29/4), mengungkapkan ekonomi tumbuh melambat masih karena kondisi global yang belum membaik. Perlambatan di Tiongkok hingga belum pulihnya perekonomian berbagai negara masih menjadi alasannya.
Pada saat yang sama, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6,4% di 2016 lebih tinggi dari 2015 sebesar 5,7% perlu berusaha keras. "Harga komoditas sudah tidak ada pergerakan, harga minyak sudah turun," katanya.
Peningkatan target yang sebesar 0,6% dilihat JK sebagai hal yang biasa karena upaya perbaikan infrastruktur. Investasi juga dilihatnya akan semakin meningkat karena Tiongkok melambat dan Jepang masih stagnan. "Prediski boleh saja bermacam-macam, kita harus paling penting kerja keras," tegas JK. Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil menyatakan perihal pertumbuhan ekonomi yang meningkat masih dibahas di musrenbangnas.
Menurut pengamatannya, tahun depan ekonomi Tiongkok akan lebih baik, harga komoditas baik, dan realisasi investasi akan tercapai. Pertumbuhan ekonomi yang besar akan didapat dari investasi. "Berbagai kebijakan struktural reformasi akan buat investasi jadi lebih mudah. Seperti bea cukai dan pajak akan ada kebijakan bisa masuk ke kawasan berikat, siapapun bisa simpan komoditas di situ enggak kena pajak," tutur Sofyan.
Dengan begitu perusahaan tidak perlu lakukan penyimpanan komoditas di luar negeri seperti Malaysia atau Singapura. Perumusan ketentuan tentang hal itu sedang dilakukan. Sofyan juga mengatakan akan ada ketentuan investasi dalam negeri yang akan diubah.
"Jadi komponen 40% disebut produk dalam negeri, kesepakatan di ASEAN juga kalau komponen 40% dari ASEAN sudah dianggap produk ASEAN," jelas Sofyan. Dengan begitu akan banyak perusahaan yang akan melaksanakan investasi di Indonesia. (Q-1)