Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif lembaga survei Charta Politika Yunarto Wijaya dan pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada A Tony Prasetiantono mengatakan penyelengaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak akan banyak berpengaruh dalam pergerakan perekonomian nasional.
Situasi politik saat ini, kata Yunarto, diyakini memang akan mendorong kelompok politik tertentu memilih strategi kampanye dengan memanfaatkan kondisi ekonomi sebab ada asumsi bahwa gejolak politik akan sangat berpengaruh pada performa ekonomi.
"Tapi sebetulnya faktor politik dari data empiris memiliki impak kecil terhadap performa ekonomi. Performa indeks pasar modal dan kapitalisasi pasar juga tidak pernah terkait dengan gejolak momentum politik selama 2017 maupun selama pilkada DKI," ujar dia dalam acara Update on Investment, Business, and Political Landscape, di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, faktor yang lebih memengaruhi sistem politik pemerintahan atau rezim biasanya dimulai melalui krisis ekonomi. Indonesia, saat ini, berada dalam situasi global yang sudah penuh ketidakpastian. "Ketika masuk dalam persepsi, 2019 ialah pemilu yang diikuti oleh incumbent (petahana) sehingga kinerja dilihat dari tingkat kepuasan publik. Tapi di 2016-2017, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo bertahan di 68%-74% (survei Charta Politika April 2018). Ini yang berdasarkan hipotesis peluang incumbent untuk menang besar," ujar dia.
Pembicara lain, pengamat ekonomi A Tony Prasetiantono mengatakan tahun depan yang disebut-sebut sebagai tahun politik tidak mesti ditakutkan. "Indonesia tidak pernah mengalami chaos, kecuali tahun 1965 dan 1998. Itu penyebabnya awalnya bukan politik, tapi hyper inflation 1998 krisis rupiah terdeprisiasi," kata dia.
Tony mengharapkan pasar juga tidak terlalu cemas dalam menanggapi fluktuasi nilai tukar rupiah, apalagi menyamakan depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi hari ini dengan yang pernah terjadi pada 1998. "Depresiasinya (pada 1998) bukan seperti sekarang. Sekarang memang 14.400, tapi kan awalnya dari 13.700. Jadi sebenarnya marginnya hanya dari 13.700 ke 14.400, sedangkan di 1998 loncatnya dari 2.300 ke 15.000. Jadi harap dibedakan," ujarnya.
Faktor Global
Oleh karena itu, menurut Tony, pasar jangan terlalu nervous dengan hal tersebut. Indikator-indikator itu membuat dia yakin tahun pemi-lu tidak ada hubungannya dengan ekonomi. "Ekonomi tetap berjalan," ujarnya.
Menurut Tony, Indonesia masih jauh dari krisis atau resesi. Benar bahwa ekonomi tertekan, tapi itu lebih disebabkan faktor global seperti kenaik-an Fed fund rate (suku bunga bank sentral AS) dan perang dagang.
Hal senada dikatakan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat menjadi pembicara dalam Investor Update 2018 Forum di London, Inggris, Senin waktu setempat. Dalam forum yang diikuti sejumlah investor dan industri keuangan itu, Wimboh menyampaikan bahwa fundamen ekonomi Indonesia cukup kuat. "Tekanan pada pasar keuangan yang terjadi akhir-akhir ini hanya merupakan fenomena temporer sebagai akibat dari rebalancing protofolio dari investor global," kata Wimboh. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved