Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKU pasar diharapkan tidak khawatir menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), apalagi menyamakan depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi hari ini dengan yang pernah terjadi di tahun 1998. Demikian disampaikan Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada A Tony Prasetiantono. Pihaknya juga berharap masyarakat lebih rasional dalam menilai kondisi politik dalam negeri menjelang pemilu legislatif maupun pemilihan presiden pada 2019 mendatang.
"Indikator-indikaror ini membuat saya yakin tahun pemilu tidak ada hubungannya dengan ekonomi. Ekonomi tetap berjalan," ujar Tony di Gedung BEI , Jakarta, Selasa (24/7).
Menengok dua periode pemilu terakhir yaitu 2009 dan 2014, saat itu Indonesia memiliki masalah ekonomi dengan komplekitas berbeda. Tahun 2009 terjadi subrime morgages crisis atau kebangkutan besar-besaran. Namun, Indonesia tidak terlalu terdampak karena sedang booming hasil komoditas , seperti minyak , kelapa sawit, batu bara sehingga masih bisa tumbuh 4,5%.
"Tahun 2009 pertumbuhan ekonomi melambat di 4,5% bukan karena pemilu tapi karena krisis," paparnya.
Pada tahun 2014, Indonesia tertekan harga minyak mencapai di atas 100 usd per barel. Akibatnya, subsidi BBM Rp 250 triliun dan subsidi PLN Rp 100 triliun. Sedangkan APBN 2014 hanya 1.900 triliun. Tapi pertumbuhan ekonomi sekitar 5%.
"Benar bahwa ekonomi tertekan, akibat rupiah tertekan oleh Fed Fund Rate, perang dagang , dan juga kenaikan harga minyak. Namun krisis atau resesi masih jauh dari situasi sekarang," pungkasnya. (OL-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved