Normal, Tiongkok Punya Kepentingan Investasi di Tanah Air
Gabriela Jessica Restiana Sihite
27/4/2015 00:00
(ANTARA/Dhoni Setiawan)
PADA umumnya, setiap negara yang meminjamkan dananya untuk berinvestasi di negara lain memiliki kepentingan tersendiri, entah itu untuk memasarkan produk atau mengembangkan industri negaranya. Termasuk Tiongkok yang menyatakan siap mengucurkan dana US$10 miliar atau sekitar Rp120 triliun untuk pembangunan jaringan transmisi dan pembangkit listrik.
Hal itu diakui oleh Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (persero) Sofyan Basir melalui sambungan telepon kepada Media Indonesia. Pria yang akrab dipanggil Sofyan ini tidak mempermasalahkan niatan pemerintah Tiongkok untuk masuk ke dalam proyek infrastruktur, khususnya proyek kelistrikan di Tanah Air. "Tidak mungkin melepas (dana) begitu saja. Itu normal," kata Sofyan.
Kendati Tiongkok diberi peluang berinvestasi besar-besaran di Indonesia, Sofyan mengatakan pihaknya dan pemerintah Indonesia tidak begitu saja menerima sembarangan tawaran perusahaan-perusahaan Tiongkok. Untuk proyek pembangkit listrik 10 ribu megawatt (Mw) yang dibangun PLN, pihaknya menyeleksi ketat perusahaan Tiongkok yang ingin masuk. Hingga saat ini, lanjut Sofyan, pemerintah membatasi hanya lima perusahaan nasional Tiongkok yang boleh ikut membangun.
"Lima BUMN ini yang bangun seluruh pembangkit listrik dan tansmisi di Tiongkok. Dan hampir kebutuhan listrik seluruh Tiongkok sudah terpenuhi. Kita hanya minta lima BUMN karena berdasarkan kualifikasi sudah berprestasi di dunia," ujarnya.
Pembatasan dan seleksi ketat itu dilakukan mengingat buruknya kualitas pembangkit listrik yang dibangun Tiongkok di Fast Track Program (FTP) I. Sebagai informasi, FTP I yang akan dibangun sebesar 10 mw, hingga saat ini baru mencapai sekitar 8 mw. Di samping itu, proyek itu molor dari target selesai pada 2010, hingga saat ini pun belum selesai.
Pemerintah Tiongkok bersedia bertanggung jawab atas kejadian itu. Saat ini, pembangkit-pembangkit itu sedang disewa kembali oleh Tiongkok dan jika sudah dibenahi, akan diserahkan kembali ke PLN.
Sofyan menuturkan penyebab tidak berkualitasnya pembangkit FTP I ialah berasal dari kontraktor yang membangunnya. "Rupanya mereka adalah kontraktor swasta yang memberikan kualitas yang tidak baik," lanjutnya.
Lebih lanjut, Sofyan menyatakan Jepang dan beberapa negara Eropa juga sudah menyatakan kesediaannya untuk membangun pembangkit listrik dan jaringan transmisi di Indonesia. "Banyak sekali peminatnya. Dari Tiongkok, swasta banyak yang minat, tapi sedang kita tutup sementara. Kita mau barangnya mau cepat dengan kualitas yang baik," pungkasnya.
Pemerintah Tiongkok tidak hanya menggelontorkan dana untuk proyek pembangkit listrik dan jaringan transmisi, tetapi untuk berbagai jenis proyek infrastruktur. Besaran dana yang disiapkan perbankan Tiongkok untuk proyek infrastruktur Indonesia mencapai US$50 miliar atau sekitar Rp640 triliun. Dana itu dari China Development Bank, yakni senilai US$30 miliar dan ICBC senilai US$20 miliar. Sebesar US$10 miliar digelontorkan untuk pembangunan jaringan transmisi dan pembangkit listrik yang dikerjakan oleh PLN. (E-1)