Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GEJOLAK ekonomi global, termasuk perang dagang, berdampak pada perekonomian Indonesia. Apalagi, dari sisi internal, neraca perdagangan juga cenderung defisit. Semua faktor itu ikut memengaruhi pelemahan nilai tukar dan keluarnya arus modal.
"Kita tidak bisa menghindari yang namanya perang dagang atau pengaruh gejolak global lainnya. Itu pasti memengaruhi kurs, lalu arus modal juga terpengaruh. Kebetulan neraca perdagangannya jelas defisit, begitu juga transaksi berjalan yang dari dulu kita defisit," tutur Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat ditemui di kantornya, Minggu (22/7).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan kumulatif Januari-Juni 2018 mengalami defisit US$1,02 miliar. Sementara itu, defisit transaksi berjalan (CAD) sepanjang triwulan I 2018 ialah US$5,54 miliar atau 2,15% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Salah satu faktor yang memicu defisit neraca perdagangan, kata Darmin, bersumber dari defisit neraca minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar, yakni US$5,39 miliar hingga akhir Juni 2018.
Di lain sisi, neraca nonmigas periode Januari-Juni 2018 mengalami surplus, tapi capaiannya lebih rendah di kisaran US$4,37 miliar. "Itu yang harus kita atasi," imbuh Darmin.
Dia menekankan, strategi pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global menyasar percepatan kinerja ekspor dan menahan laju impor, khususnya dari sektor migas. Bank Indonesia melalui kebijakan moneter telah menyesuaikan tingkat suku bunga acuan (BI 7-day reverse repo rate/DRRR) pada level 5,25%. Langkah tersebut ditujukan untuk menstabilkan kurs dan mendorong kembalinya arus modal (capital inflow).
Strategi lain yang digencarkan ialah mengoptimalkan implementasi program campuran 20% bahan bakar nabati (biodiesel) dalam solar atau dikenal B-20.
Apabila kebijakan B-20 dapat terlaksana 90% dari target, pemerintah meyakini terjadi penghematan devisa negara hampir US$5,5 miliar untuk menutup defisit migas. Bahkan, pemerintah optimistis neraca perdagangan sampai akhir 2018 dapat surplus jika pelaksanaan program B-20 optimal.
"Jika kinerja neraca perdagangan surplus, tekanan terhadap keluarnya arus modal (capital outflow) akan berkurang. Ketika pergerakan arus modal di dalam negeri relatif tenang, nilai tukar rupiah lebih kondusif."
Capital inflow
Pengamat ekonomi dari Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi menilai, nilai tukar yang sempat menyentuh Rp14.500 per dolar AS sulit menguat dalam waktu dekat, kecuali terjadi masuknya arus modal asing (capital inflow) yang cukup masif.
Hal senada dikatakan pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah. Dia menilai, potensi pelemahan rupiah masih akan berlanjut meski BI telah menaikkan suku bunga acuan. Diketahui, BI 7-day reverse repo rate (DRRR) kini berada di level 5,25%.
Menurutnya, tingkat kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih di tengah besarnya tekanan eksternal. Strategi menarik kembali modal asing, kata dia, dapat melalui penawaran suku bunga yang menarik dengan diperkuat fitur pengurangan risiko.
(E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved