MEMASUKI era pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tinggal 8 bulan lagi, para praktisi public relation (PR) Indonesia harus memiliki strategi agar siap mengikuti ketatnya alur persaingan.
Ketua Umum Perhumas Agung Laksamana mengatakan, ada tiga hal penting yang harus dimiliki oleh seorang PR, yaitu inovatif, kreatif, dan percaya diri. Lebih dari itu, ketiganya harus dikemas menjadi strategi jitu menghadai MEA.
"Harus diakui, Malaysia lebih tekun, Singapura lebih efisien, Filipina lebih berani, lalu Thailand dengan keramahannya. Kita ramah tapi tidak lebih dari itu, sehingga harus ada yang bisa ditawarkan," ujarnya di Jakarta, Jumat (24/4).
Faktanya, saat ini meskipun dengan luas wilayah yang lebih besar serta budaya dan pariwisata yang lebih beragam, Indonesia masih kalah dengan Thailand dalam hal menarik wisatawan untuk berkunjung.
"Turis asing di Thailand itu 43 juta, kita baru 9 juta-an. Harusnya kita belajar dari situ, jelas terlihat cara kita 'menjual' itu kurang. Karena itu, PR harus lebih inovatif dan kreatif," katanya.
Meski ironis memang, di tengah jutaan akademisi PR di Tanah Air dengan jumlah sekolah komunikasi terbesar kedua di ASEAN setelah Filipina, tetapi secara kualitas masih kalah dari negara yang notabene lebih kecil.
"Dari 200 program studi PR di Indonesia, hanya 130 yang diakui berkualitas bagus. Bahkan tidak banyak dosen PR kita yang punya jurnal atau jadi pembicara di luar negeri," katanya.
Ke depan, lanjut Agung, mau tidak mau para praktisi PR harus bisa memegang peran di negeri sendiri. Tak ada pilihan lain kecuali mempersiapkan hal itu mulai sekarang.
Sementara itu, dijelaskan Rektor Universitas Paramadina Firmanzah, bahwa industri PR memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. Artinya, ketika suatu kawasan pertumbuhan ekonominya tinggi maka perkembangan industri PR dan agensinya pun biasanya meningkat.
"Indonesia berkontribusi 40% dari PDB ASEAN, begitupun populasinya sebanyak 40% dari jumlah penduduk ASEAN. Middle class income di 2020 diperkirakan 400 juta USD dengan pengeluaran yang tidak sedikit. Ini menjadi satu hal luar biasa untuk memotori bisnis," tuturnya.
Namun demikian, perlu dipahami karakteristik pasar di ASEAN (one region multiple market) berbeda dengan di Eropa (one region one market). Konsumen antar negara di ASEAN pun memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
"Kalau kita lihat, Petronas Malaysia dengan adanya nuansa-nuansa nasionalisme. Itu tidak bisa diterima di pasar Indonesia, akhirnya beberapa Petronas tutup. Ini menarik, karena delegasi dan strategi harus dipertimbangkan," pungkasnya.
Ia memaparkan, ASEAN terutama Indoensia, diduga akan jadi market besar MEA, ketika masuknya perusahaan Eropa ke dalam negeri biasanya membawa perusahaan PR dari negaranya. Tetapi karena mayoritas tidak paham dengan budaya setempat, mereka pun mencari partner.
Menurut Firmanzah, PR Indonesia harus dibekali dengan kesiapan menjadi partner itu. Selain itu, penting juga perubahan mindset sehingga jangan hanya sebatas 'jaga kampung', tapi memproteksi dan memikirkan cara ekspansi.
"Kalau mereka bisa, kita juga bisa. Go one policy. Bank-bank kita sudah mulai memasuki negara lain. Meski sebenarnya strategy incorporated itu belum terbangun kuat, mumpung BUMN kita sudah recovery, kita bawa gerbong ini sampai ke ASEAN. Kita harus confident," tegasnya.(Q-1)