Kredit BTPN Tumbuh Positif

Tesa Oktiana Surbakti
23/4/2015 00:00
Kredit BTPN Tumbuh Positif
(Dok MI)
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) terus berupaya memperkuat peranannya guna memberdayakan segmennasabah berpenghasilan rendah di tahun ini.  Bank tersebut berhasil menumbuhkan kredit sebesar 13% pada 2015  menjadi Rp 52 triliun dari Rp46,1 triliun pada 2014.

"Pertumbuhan kredit BTPN sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata kredit industri yang hanya berada di kisaran 12%," ujar Direktur BTPN Arief Harris dalam pemaparannya kepada pewarta di ajang Investor Day, Jakarta Kamis (23/4).

Kendati kinerja di sepanjang tahun silam diwarnai dengan tantangan pertumbuhan ekonomi yang melambat, menurut Arief BTPN berhasil menggeliatkan aktivitas bisnis di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dukungan terwujud melalui penyaluran kredit ke segmen UMKM yang bertumbuh 22%. Selain mendanai segmen UMKM, BTPN turut menyalurkan kredit ke para pensiunan serta menyalurkan kredit ke kelompok masyarakat prasejahtera produktif  melalui anak usaha BTPN syariah.

"Penyaluran dana segmen prasejahtera produktif tumbuh 85% dari Rp1,35 triliun di 2013 menjadi Rp2,5 triliun pada 2014. Angka itu menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan produktif di segmen tersebut. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi," tegasnya.

Beragam kegiatan pendampingan yang telah dilakukan menyasar pada para pensiunan, pelaku UMKM, berikut komunitas prasejahtera produktif. Meski penyaluran kredit bertumbuh pesat, namun BTPN memastikan tetap menerapkan asas kehati-hatian yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross yang terjaga di kisaran 0,7% pada akhir 2014. 

Kisaran NPL dikatakan Arief terbilang lebih rendah lantaran pendanaan hanya tumbuh sekitar 2%. Pun untuk menyesuaikan laju pertumbuhan kredit, BTPN menyiasati dengan keseimbangan porsi pendanaan dengan memperhatikan kecukupan likuiditas. Adapun pencatatan akhir 2014 menunjukkan sumber dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 53,3 triliun, bertumbuh sekitar 2% dari tahun lalu.

"Sedangkan pendanaan yang bersumber dari pinjaman bilateral dan obligasi di 2014 sebesar Rp 8,2 triliun, meningkat 29% dari tahun sebelumnya yang berkisar Rp 6,36 triliun," ucap dia. 

Pencatatan terhadap rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) menunjukkan capaian 97%. Bila memperhitungkan pendanaan dari obligasi dan pinjaman bilateral, rasio likuiditas BTPN berada di level 84%.

Menyinggung pada capaian laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp1,85 triliun di 2014, Arief mengakui jumlah iyu  lebih rendah 13% dari tahun sebelumnya, yakni Rp2,13 triliun. Menurut Arief, hal tersebut disebabkan peningkatan biaya dana, kenaikan suku bunga acuan (BI rate), serta pelambatan pertumbuhan bisnis.

"Namun kami optimistis dengan modal kinerja yang sehat dan dukungan pemegang saham mayoritas, ke depan BTPN dipastikan bertumbuh lebih baik lagi," harapnya.  (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya