Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI rupiah dalam perdagangan kemarin ditutup pada level 14.495 atau melemah 53 poin (0,37%) dari penutupan sebelumnya di 14.442. Pada perdagangan sesi 1, rupiah bahkan sempat menyentuh 14.515 per dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menolak bila nilai tukar rupiah yang telah menembus 14.500 disebut menuju titik keseimbangan baru sebab pergerakan angka tersebut masih mungkin berubah.
"Segala sesuatu itu masih bisa naik dulu atau turun lagi, itu masih bergerak. Jadi, jangan terlalu dianggap itu sudah keseimbangan baru," ujar Darmin di Jakarta, kemarin.
Langkah kebijakan yang diambil Bank Indonesia, kata Darmin, ada hubungannya dengan ucapan dari Gubernur The Fed mengenai dorongan mengejar tingkat bunga dan target inflasi AS di atas 2%.
"Orang membacanya The Fed mau naikin suku bunga. Jadi kita sendiri mengambil kebijakan. BI ambil kebijakan dari suku bunga dan pemerintah ambil kebijakan seperti biodiesel ini," papar Darmin.
Senada, Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto melihat pelemahan nilai tukar rupiah lebih disebabkan perkembangan arah ekonomi AS terutama setelah Presiden Donald Trump mengkritik kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga.
Alhasil, mata uang dolar AS serentak menguat ke sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia yang baru saja menahan kenaikan suku bunga acuan BI 7-Day reverse repo rate di 5,25%, Kamis (19/2).
"Domestik tidak ada masalah, masalahnya ialah Trump yang membuat pernyataan berlawanan dengan The Fed," ujar Erwin di Jakarta, kemarin.
Kepala Riset PT Koneksi Kapital Marolop Alfred Nainggolan berpendapat pasar telah berekspektasi di semester II 2018 akan ada kenaikan suku bunga kebijakan BI 7-Day repo rate sebanyak dua kali lagi.
Ia melihat putusan terakhir Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mempertahankan posisi suku bunga dalam tingkat yang sama yakni 5,25% sebagai langkah antisipasi menyikapi perkembangan global di semester II 2018.
Suku bunga
Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono melihat sangat boleh jadi bahwa pasar berharap BI menaikkan lagi suku bunga untuk mengantisipasi pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FMOC), 31 Juli-1 Agustus mendatang.
"Kita lihat dulu perkembangan pasar. Jika rupiah masih melemah, Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga lagi. Tidak harus mengikuti jadwal RDG," ujar Tony saat dihubungi, kemarin.
Di AS, kata Tony, juga timbul diskusi tentang kemungkinan Fed fund rate kembali naik karena indikator ekonomi AS baik, kecuali inflasi 2,9% melebihi ekspektasi. "Keputusan BI tidak harus mengikuti jadwal RDG. Bisa lebih cepat."
Sekarang ini kondisi rupiah sudah di luar ekspektasi. Meski demikian, Bank Indonesia juga harus bersikap lebih tenang, tidak menunjukkan gejala panik.
Akan tetapi, Erwin membantah jika melemahnya nilai rupiah Jumat ini karena pelaku pasar merespons negatif keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan 7-Day reverse repo rate sebesar 5,25%.
"Jika melihat lebih luas, tidak hanya rupiah yang melemah hari ini, tetapi juga mata uang lainnya," ujar Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto. (X-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved