Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGGINYA harga telur maupun daging ayam ras semenjak bulan Ramadan disinyalir disebabkan juga karena adanya kelangkaan pakan ternak dalam proses produksinya. Yang pada akhirnya ini menyebabkan biaya produksi menjadi kian tinggi.
Keberlangsungan panen jagung dalam negeri yang jauh dari stabil, dinilai ekonom, menjadi salah satu faktor yang memberatkan peternak. Upaya khusus padi, jagung dan kedelai (upsus pajale) besutan Kementerian Pertanian tak bisa sepenuhnya berkontribusi pada industri pakan.
“Problemnya bukan hanya masalah produksi namun kontinuitas. Jangan dilihat ketika panen jagung, terus kita swasembada. Jagung masih diragukan bisa memasok kebutuhan industri pakan,” urai Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika, Jumat (20/7).
Untuk tahun ini, sasaran upsus adalah peningkatan produksi jagung menjadi 33,08 juta ton. Angka produksi ini bisa dicapai dengan dukungan program 4 juta ha lahan, alat dan mesin pertanian serta bantuan pembinaan. Namun, Yeka menilai, konsistensi menjadi persoalan.
Di sisi lain, Yeka menganalisa, dalam setahun kebutuhan industri pakan hanyalah 8 juta ton. Jika dirata-rata, kebutuhan per bulan berkisar 660 ribu todn. Namun, budaya petani yang menanam jagung, padi dan palawija secara bergantian tiap musim menyebabkan produksi jagung tak merata sepanjang tahun. Depresiasi rupiah juga turut mendorong lonjakan harga pakan. Hal ini karena bungkil kedelai masih harus didatangkan dari luar negeri.
Meroketnya harga telur sebulan terakhir juga disebabkan minimnya pasokan akibat berkurangnya populasi ayam petelur. Menurut Yeka, berkurangnya jumlah pelaku usaha akibat banyaknya pelaku usaha skala kecil yang bangkrut ketika harga jatuh dua tahun lalu menjadi penyebab terpangkasnya populasi ayam petelur.
Ia memperkirakan setidaknya 30% peternak ayam kecil yang terpaksa menutup usahanya akibat harga telur yang terlalu rendah. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan afkir dini dan pembatasan impor DOC sebagai upaya untuk menghindari over supply yang menyebabkan pasokan telur berlebih dan harga jatuh.
Faktor lain yang tak kalah pentingnya, lanjut Yeka, adalah adanya penyebaran penyakit yang ditemui di beberapa sentra penghasil telur yang menyebabkan tingkat kematian hingga 100%. Penyakit ini menyebabkan produksi telur berkurang 20-30%, sementara di saat yang sama beban biaya produksi meningkat. Lagi-lagi, ini adalah kerja Kementerian Pertanian, yang diharapkannya lebih fokus.
Peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus mengungkapkan senda. Masalah mengenai pakan ternak ini terlihat dari kurangnya suplai jagung khusus untuk pakan ternak yang bisa dihasilkan dari dalam negeri. Sementara itu, sudah sejak tahun lalu diketahui ada pembatasan impor jagung. Pembatasan mengenai impor jagung ini diputuskan lewat Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 57 Tahun 2015.
“Intinya masalah di pakannya ini cukup krusial. Itu berdampak terhadap outputnya, dalam hal ini adalah telur dan daging ayam,” ujar Heri di kesempatan berbeda
Saat ini, rata-rata harga ayam ras secara nasional telah berada di angka Rp39.100 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras sudah mencapai posisi Rp27.200 per kilogram.
Sebaliknya, terhadap kenaikan harga ini, pemerintah melakukan upaya. Salah satunya, dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggastiasto Lukita. Mendag berupaya segera menurunkan harga telur. Salah satunya caranya dengan intervensi pasar yang dilakukan kementeriannya.
Keputusan ini merupakan kebijakan yang diambil setelah Enggar menggelar rapat dengan para pengusaha perunggasan, mulai dari pengusaha pakan ayam, pengusaha ayam broiler sampai pengusaha telur dari berbagai daerah. Dalam rapat tersebut, hadir pula Ketua Satgas Pangan Polri, Irjen (Pol) Setyo Wasisto.
"Kami siapkan langkah intervensi pasar dengan meminta para integrator yang besar untuk mengeluarkan stoknya dan kami akan lakukan penjualan langsung di pasar jika harga tidak turun dalam seminggu," tutur Menteri Enggartiato, Senin (16/7).
Pemerintah mendesak para distributor telur ayam untuk menurunkan harga jual komoditas tersebut secara perlahan dalam waktu sepekan. Ini seiring kondisi pasokan yang sudah membaik usai Lebaran 2018.
Ia memastikan, mahalnya harga telur maupun ayam ras saat ini bukan disebabkan aksi penimbunan. Hal ini lantaran kedua komoditas tersebut bukan barang yang tahan lama dan membutuhkan biaya untuk menahannya di dalam peternakan atau gudang.
"Sekarang kalau mau menimbun ayam harus dikasih makan. Jadi, tidak bisa. Secara relatif tidak bisa dilakukan penimbunan, tapi kita lihat secara keseluruhan, kita update posisi itu semua. Kementan akan menyiapkan update kembali evaluasi," ujarnya
Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan para produsen sepakat turut mengurangi kadar obat-obatan pada ayam ternak. Libur Lebaran juga dinilainya berpengaruh. “Dari sisi suplai ke pasar terjadi pengurangan yang disebabkan masa libur yang panjang. Ternyata mereka yang bekerja di peternakan ini mau cuti," ungkap dia. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved