Mandiri: Bank Asing Diprioritaskan untuk Divestasi Freeport

Fetry Wuryasti
19/7/2018 19:34
Mandiri: Bank Asing Diprioritaskan untuk Divestasi Freeport
(Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo---ANTARA)

BANK asing lebih diprioritaskan untuk memberikan pinjaman kepada PT Indonesia Asahan Alumunium atau Inalum (Persero) untuk mencaplok saham 51 persen PT Freeport Indonesia (PTFI). Karena, jika sumbernya menggunakan Bank yang ada di dalam negeri, nanti malah mengganggu pasokan dolar AS di dalam negerinya.

Total dana yang diperlukan untuk divestasi 51 persen saham Freeport adalah 3,85 miliar dollar AS atau setara Rp 55,44 triliun dengan perhitungan kurs Rp 14.400 per dollar AS. Bank BUMN yang termasuk dalam pembiayaan tersebut antara lain Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BTN.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan mempersilakan bank asing untuk lebih dulu untuk pembiayaan pencaplokan Freeport.

"LDR kami memang cukup menantang di valas, ini semenjak adanya volatilitas di pasar global kan banyak penarikan dana valas, sehingga untuk danai dalam skala besar di dolar AS ini lebih menantang," ujar Tiko di Jakarta,Kamis (19/7).

Makanya mereka diberikan kesempatan lebih dulu bagi bank asing untuk maju. Sebab untuk bank lokal mendapat dana dengan ukuran sebesar itu dan tenor seperti itu, tidak mudah mencari pendanaan. Lagipula belum ada penawaran pembiayaan divestasi tersebut dari Himbara.

"Kalau sumbernya menggunakan yang ada di dalam negeri, nanti malah mengganggu pasokan dolar AS di dalam negerinya. Makanya kami sampaikan mungkin bank asing lebih diprioritaskan dulu," ulang Tiko.

Dia akui, dalam pemberian kredit valas, pengereman kredit valas terjadi karena LDR valas di semua bank meningkat.

"Di kami pun juga cukup tinggi karena DPK valas baik tabungan maupun giro itu turunnya cukup signifikan di kuartal II 2018. Jadi ini fenomena yang harus kami antisipasi. Ke depan, struktur pendanaan valas kami akan meningkat, deposito valas bulan lalu masih bisa di-charge sekitar 0,751 persen, sekarang sudah di 2,0-2,5 persen, bahkan ada yang sampai 3,0 persen. Perubahan itu mempengaruhi cost of fund kami, sehingga ke depan kemampuan kami untuk mendanai proyek valas kemungkinan akan sedikit terkendala," jelas Tiko.

Maka mereka akan menyusun strategi untuk pendalaman valas mereka, mengingat loan to deposit ratio ( LDR ) mereka memang cukup menantang di valas, semenjak adanya volatilitas di pasar global yang berakibat banyak penarikan dana valas. Sehingga untuk danai dalam skala besar di dolar AS ini lebih menantang. Bank Mandiri memiliki tiga opsi.

Pertama, bank akan menerbitkan obligasi. Kedua, melalui bilateral loan, atau menggunakan repo. Repo ini adalah menggunakan repo dengan underlying obligasi SUN.

"Ya kami sedang kaji dari sisi tenor dan cost, mana yang lebih efisien dan optimal. Karena ada juga bank asing yang underlyingnya obligasi SUN tapi kami mendapat dolar AS, itu bisa juga, itu cost-nya bagus, jadi sedang kami kaji, sekitar 1-2 bulan ke depan akan kami putuskan. Kebutuhannya di fase awal mungkin US$500 juta dulu," tukas Tiko. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya