Promosi Minim Hambat Investasi Masuk

Iqbal Musyaffa
21/4/2015 00:00
Promosi Minim Hambat Investasi Masuk
(AP Photo/Achmad Ibrahim)
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengklaim Indonesia merupakan negara tujuan investasi terbaik di kawasan. Namun, sarana promosi yang kurang menyebabkan banyak investor tidak menyadari akan hal tersebut.“Kita negara terbaik untuk investasi di kawasan selain India. Kinerja kita selama ini dianggap bagus, tetapi komunikasinya enggak bagus. India sebaliknya, komunikasinya sangat bagus walaupun implementasinya tidak sehebat publikasinya,” cetus Sofyan dalam World Economic Forum di Jakarta, Selasa (21/4).

Dengan penyelenggaraan World Economic Forum selma dua hari di Jakarta merupakan sarana promosi publik yang baik dan murah untuk Indonesia. “Karena melalui forum ini, peserta membayar sendiri (keperluan untuk mengikuti forum ini). Kita hanya menyediakan makan malam satu kali. Sisanya mereka bayar sendiri sama seperti kalau kita pergi ke Davos,” lanjutnya.

Setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pada pembukaan WEF, semakin meyakinkan investor bahwa Indonesia merupakan negara potensial untuk investasi. “Semua menteri tampil menjelaskan kebijakannya. Dan itu yang membuat mereka (investor) yakin.”

Para investor banyak menanyakan dan meminta klarifikasi pemerintah terkait masalah regulasi dan hal-hal yang tidak dimengerti terkait iklim usaha di Indonesia. Namun, belum ada komitmen nyata dari para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Memang mereka datang ke sini bukan untuk investasi. Tapi forum ini membantu para investor untuk membuat keputusan bisnis apakah akan berinvestasi di Indonesia atau tidak.”

Hal-hal yang banyak ditanyakan para investor kepada pemerintah adalah penjelasan mengenai kebijakan larangan ekspor bahan-bahan pertambangan mentah yang belum diolah. Tidak sedikit yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara paling protektif di kawasan. Namun, dengan tegas hal tersebut dibantah oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di hadapan para peserta WEF. “Kita negara terbuka, bukan negara proteksionis,” tegasnya.

Ia menjelaskan, terkait larangan ekspor material tambang mentah merupakan sebuah keharusan yang harus dilakukan pemerintah untuk memberikan nilai tambah bagi industri di dalam negeri. “Sebelum diekspor, bahan-bahan mentah tersebut harus diolah terlebih dahulu. Kita harus andalkan manufaktur dan tidak boleh tergantung pada bahan mentah saja untuk menjadi negara maju,” kilahnya. (Mus/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya