Dana Desa Hanya Dinikmati Elit Desa

Andhika Prasetyo
17/7/2018 16:38
Dana Desa Hanya Dinikmati Elit Desa
(Ilustrasi)

EKONOM Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan dana desa yang digelontorkan pemerintah hingga ratusa triliun sejak 2015 silam lebih banyak dimanfaatkan oleh 20% masyarakat yang merupakan golongan teratas.

Hal itu bisa dilihat dari laporan yang dirilis Badan Pusat Statistik.

Gini ratio atau tingkat ketimpangan antara penduduk kaya dan miskin di Indonesia turun tipis dari 0,391 pada September 2017 menjadi 0,389 pada Maret 2018.

Kendati menurun secara nasional, gini ratio belum merata di sejumlah daerah. Ketimpangan di perdesaan justru meningkat dari 0,320 pada September 2017 menjadi 0,324 pada Maret 2018. Sedangkan di perkotaan berhasil turun dari 0,404 menjadi 0,401 pada periode yang sama.

Di perkotaan, jumlah pengeluaran kelompok bawah meningkat 2,49%. Kelompok menengah tumbuh 2,17%, dan kelompok atas banyak 0,94%.

Sebaliknya, di perdesaan, kenaikan pengeluaran per kapita kelompok bawah tidak secepat kelompok atas yakni 2,93% berbanding 4,95%, meski lebih baik daripada kelompok menengah yang hanya 2,35%.

“Artinya orang kaya dan orang miskin sama-sama maju, tetapi yang kaya majunya lebih cepat. Padahal pemerintah bertahun-tahun sudah mengeluarkan dana desa yang nilainya sangat besar. Di sini ada yang janggal,” ujar Ahmad Heri kepada Media Indonesia, Selasa (17/7)

Menurutnya, disparitas pengeluaran yang cukup jauh antara golongan atas dan golongan bawah sangat erat kaitannya dengan penyaluran dana desa yang dianggap tida merata.

“Kalau dikorelasikan jelas ada pengaruhnya. Angka pengeluaran semua memang naik, tetapi ada yang dominan. Jadi dapat dikatakan yang bisa memanfaatkan dana desa ini ya para elit desa,” tuturnya.

Maka dari itu, ia menuntut agar pemerintah dapat melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap penyaluran dana desa sehingga anggaran yang terhambur dapat dirasakan secara maksimal oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Dari pemerintah tujuannya sudah baik tetapi ketika implementasi di lapangan itu yang banyak masalah sehingga hasilnya seperti sekarang ini,” tandasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya