Trisula Bagikan Deviden Rp10 Miliar

Ibnu Haykal
20/4/2015 00:00
Trisula Bagikan Deviden Rp10 Miliar
(ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
RAPAT Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Trisula Interational Tbk (TRIS), emiten distributor fashion Indonesia, memutuskan membagikan deviden tahun buku 2014 sebesar Rp 10 miliar. TRIS mencatat pendapatan sebesar Rp 746,82 miliar sepanjang tahun 2014 atau tumbuh 5,2% dari perolehan penjualan bersih 2013 sebesar Rp 709,94 miliar. Sementara laba usaha TRIS sepanjang 2014 tercatat sebesar Rp 52,58 miliar atau turun 17,2% dari perolehan tahun sebelumnya Rp 63,53 miliar.

Direktur Utama PT Trisula Internasional Tbk Lisa Tjahjadi menjelaskan koreksi kinerja yang dialami perseroan sepanjang 2014 disebabkan oleh fluktuasi mata uang yaitu melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Lisa katakan hal ini dikarenakan sejumlah produk yang dipasarkan TRIS sebagian masih diimpor dari luar negeri sementara penjualannya menggunakan mata uang rupiah.

Di sisi lain, Lisa menjelaskan kenaikan UMR wilayah Bandung dan sekitarnya sebesar 25% juga cukup embebankan perseroan yang memiliki banyak karyawan di daerah tersebut. Akibatnya beban keuangan dan penjualan perseroan tidak dapat dikompensasi oleh pertumbuhan penjualan yang menyebabkan tergerusnya laba perseroan. Untuk diketahui, beban pokok penjualan perseroan sepanjang 2014 naik 6,8% menjadi Rp 557,96 miliar, kemudian beban usaha naik 9,8% menjadi 136,28 miliar.

Lisa menambahkan porsi domestik retail saat ini mencapai kisaran 21%, meningkat 2% dari tahun sebelumnya yang hanya 19%. Perlambatan pertumbuhan penjualan secara keseluruhan juga sangat terasa di tengah belum membaiknya perekonomian global. Sementara penjualan retail domestik, kebijakan kenaikan harga yang dilakukan akibat kurs USD meningkat untuk barang-barang impor seperti Jack Niklaus, Hallmark, G2000, dan BONDS, turut serta memperlambat pertumbuhan penjualan di tahun 2014.

Dengan pencapaian laba yang lebih rendah, RUPST menetapkan penggunaan Laba Bersih Perseroan Tahun Buku 2014 yang sebesar Rp 23,6 miliar dengan rincian antara lain: sebesar Rp 1 miliar ditetapkan sebagai Cadangan Wajib untuk memenuhi ketentuan pasal 70 UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kemudian sebesar Rp 9,5 per lembar saham atau senilai dengan Rp 10 miliar dibagikan sebagai deviden. Sementara sisa dari laba bersih tahun buku 2014 akan dibukukan sebagai laba di tahan atau retained earning untuk mendukung pengembangan perseroan tahun 2015.

"Tahun 2014 kita mengalami tantangan berarti seperti pelemahan rupiah yang pengaruhi penjualan internasional, tetapi di 2015 kami lebih optimistis dengan target penjualan bersih tumbuh 14% dan laba bersih ditargetkan tumbuh 15%," ungkap Lisa di tengah RUPST TRIS di Bursa Efek Indonesia, SCBD, Jakarta pada Senin, (20/4).

Adapun strategi untuk mencapai target tersebut menurut Lisa antara lain melalui penguatan Pasar Domestik dan Internasional. Di pasar domestik TRIS akan memperkuat supply chain dan pengembangan produk untuk mempertajam gross profit ratio, peningkatan distribution and Customer Service, dan efisiensi biaya operasional.

Lisa menambahkan, pada pasar internasional, TRIS berkonsentrasi dalam bisnis ekspor seragam (corporate wear) yang sudah terbukti suskes. Strategi bisnis TRIS tahun 2015, juga akan lebih fokus pada pasar Asia dan USA yang berpeluang besar, menghadirkan inovasi produk baru yang mengikuti trend pasar, dan terus melakukan efisiensi biaya melalui sistem otomasi.

Direktur International Sale TRIS, Kartono Budiman menambahkan, pasar ekspor Perseroan mengalami tantangan besar mengingat ekonomi global ke depan belum bangkit sepenuhnya, terutama pada pasar Eropa, UK, USA. "Depresiasi mata uang global pengaruhi kenaikan biaya di customer. Jadi minimal kita harus lakukan negosiasi dengan customer," ujar Kartono dalam kesempatan yang sama.

Kartono menambahkan, saat negosisi tersebut, perseroan akan meningkatkan ekspor ke pasar Asia dan AS dengan produk yang lebih inovatif. Dia menilai, Asia merupakan pasar besar tetapi daya beli masih dipengaruhi fluktuasi mata uang mereka terhadap dolar AS.

Sementara untuk pasar AS, ekspor tekstil ke AS masih dipengaruhi adanya persaingan dengan Vietnam. Terlebih adanya MoU yang memungkinkan bebas bea masuk untuk 10 negara ekspor dengan AS termasuk Vietnam di dalamnya. "Ini untungkan 10 negara tersebut. Hanya catatanya harus produk asli. Ini peluang kita," ungkap Kartono.

Untuk Asia, TRIS mencoba masuk ke pasar China, selain melayani pasar Korea dan Jepang saat ini. Kartono menilai pasar manufacturing China kini tengah berkembang. Sementara pasar New Zeleand yang baru dijalal TRIS juga telah memberikan hasil baik di akhir 2014.

Kartono menargetkan penjualan akan tumbuh 17% untuk pasar ekspor. Targetnya antara lain UK dan Eropa tumbuh 25% dari total ekspor, Australia naik 20%, Asia Tumbuh 12%. Sementara untuk pasar AS diharapkan tetap tumbuh 20%. Untuk jenis produk ekspor, Kartono ungkapkan, TRIS akan terus meningkatkan produk untuk golf, dan waterproof. "Waterproof di pasar dunia masih sedikit, kita ke arah sana, sudah kita tambah resources sejak 2013 untuk mewujudkan pasar ini," ujar Kartono.

Akusisi
Setelah berhasil mengakusisi Mido Uniform Pte Ltd - Singapura pada tahun 2014 dan berhasil mendesain dan memproduksi seragam cabin crew untuk anak perusahaan Singapore Airlines Group, yaitu Silk Air, maka tahun ini TRIS berencana mengakusisi lagi prusahaan distribusi untuk pemperkuat sektor ritel. "Akusisi lain ada, masih tahapan pembicaran. Kelihatan ada satu yang serius, tetapi awal tahun depan baru terwujud.

Lisa ungkapkan perusahaan yang akan diakuisi itu bergerak di sektor ritel. Akuisis dilakukan untuk perkuat distribusi network. TRIS sudah menyiapkan dana Rp 50 miliar untuk akusisi tersebut. Sementara untuk capex tahun ini, menurut Lisa, TRIS menganggarkan dana sekira Rp10-15 miliar. "Kita akan tambahan toko untuk produk Hallmark dengan biaya Rp5 miliar hingga Rp7 miliar, termasuk investasi awal untuk produk. Kita juga gencar promo untuk produk lain, jadi biayanya sekitar Rp10 miliar," ujar Lisa. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya