RAPAT Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Trisula Interational
Tbk (TRIS), emiten distributor fashion Indonesia, memutuskan membagikan
deviden tahun buku 2014 sebesar Rp 10 miliar. TRIS mencatat pendapatan
sebesar Rp 746,82 miliar sepanjang tahun 2014 atau tumbuh 5,2% dari
perolehan penjualan bersih 2013 sebesar Rp 709,94 miliar. Sementara laba
usaha TRIS sepanjang 2014 tercatat sebesar Rp 52,58 miliar atau turun
17,2% dari perolehan tahun sebelumnya Rp 63,53 miliar.
Direktur
Utama PT Trisula Internasional Tbk Lisa Tjahjadi menjelaskan koreksi
kinerja yang dialami perseroan sepanjang 2014 disebabkan oleh fluktuasi
mata uang yaitu melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Lisa katakan
hal ini dikarenakan sejumlah produk yang dipasarkan TRIS sebagian masih
diimpor dari luar negeri sementara penjualannya menggunakan mata uang
rupiah.
Di sisi lain, Lisa menjelaskan kenaikan UMR wilayah
Bandung dan sekitarnya sebesar 25% juga cukup embebankan perseroan yang
memiliki banyak karyawan di daerah tersebut. Akibatnya beban keuangan
dan penjualan perseroan tidak dapat dikompensasi oleh pertumbuhan
penjualan yang menyebabkan tergerusnya laba perseroan. Untuk diketahui,
beban pokok penjualan perseroan sepanjang 2014 naik 6,8% menjadi Rp
557,96 miliar, kemudian beban usaha naik 9,8% menjadi 136,28 miliar.
Lisa
menambahkan porsi domestik retail saat ini mencapai kisaran 21%,
meningkat 2% dari tahun sebelumnya yang hanya 19%. Perlambatan
pertumbuhan penjualan secara keseluruhan juga sangat terasa di tengah
belum membaiknya perekonomian global. Sementara penjualan retail
domestik, kebijakan kenaikan harga yang dilakukan akibat kurs USD
meningkat untuk barang-barang impor seperti Jack Niklaus, Hallmark,
G2000, dan BONDS, turut serta memperlambat pertumbuhan penjualan di
tahun 2014.
Dengan pencapaian laba yang lebih rendah, RUPST
menetapkan penggunaan Laba Bersih Perseroan Tahun Buku 2014 yang sebesar
Rp 23,6 miliar dengan rincian antara lain: sebesar Rp 1 miliar
ditetapkan sebagai Cadangan Wajib untuk memenuhi ketentuan pasal 70 UU
No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kemudian sebesar Rp 9,5 per
lembar saham atau senilai dengan Rp 10 miliar dibagikan sebagai
deviden. Sementara sisa dari laba bersih tahun buku 2014 akan dibukukan
sebagai laba di tahan atau retained earning untuk mendukung pengembangan
perseroan tahun 2015.
"Tahun 2014 kita mengalami tantangan
berarti seperti pelemahan rupiah yang pengaruhi penjualan internasional,
tetapi di 2015 kami lebih optimistis dengan target penjualan bersih
tumbuh 14% dan laba bersih ditargetkan tumbuh 15%," ungkap Lisa di
tengah RUPST TRIS di Bursa Efek Indonesia, SCBD, Jakarta pada Senin,
(20/4).
Adapun strategi untuk mencapai target tersebut menurut
Lisa antara lain melalui penguatan Pasar Domestik dan Internasional. Di
pasar domestik TRIS akan memperkuat supply chain dan pengembangan produk
untuk mempertajam gross profit ratio, peningkatan distribution and
Customer Service, dan efisiensi biaya operasional.
Lisa
menambahkan, pada pasar internasional, TRIS berkonsentrasi dalam bisnis
ekspor seragam (corporate wear) yang sudah terbukti suskes. Strategi
bisnis TRIS tahun 2015, juga akan lebih fokus pada pasar Asia dan USA
yang berpeluang besar, menghadirkan inovasi produk baru yang mengikuti
trend pasar, dan terus melakukan efisiensi biaya melalui sistem otomasi.
Direktur
International Sale TRIS, Kartono Budiman menambahkan, pasar ekspor
Perseroan mengalami tantangan besar mengingat ekonomi global ke depan
belum bangkit sepenuhnya, terutama pada pasar Eropa, UK, USA.
"Depresiasi mata uang global pengaruhi kenaikan biaya di customer. Jadi
minimal kita harus lakukan negosiasi dengan customer," ujar Kartono
dalam kesempatan yang sama.
Kartono menambahkan, saat negosisi
tersebut, perseroan akan meningkatkan ekspor ke pasar Asia dan AS dengan
produk yang lebih inovatif. Dia menilai, Asia merupakan pasar besar
tetapi daya beli masih dipengaruhi fluktuasi mata uang mereka terhadap
dolar AS.
Sementara untuk pasar AS, ekspor tekstil ke AS masih
dipengaruhi adanya persaingan dengan Vietnam. Terlebih adanya MoU yang
memungkinkan bebas bea masuk untuk 10 negara ekspor dengan AS termasuk
Vietnam di dalamnya. "Ini untungkan 10 negara tersebut. Hanya catatanya
harus produk asli. Ini peluang kita," ungkap Kartono.
Untuk Asia,
TRIS mencoba masuk ke pasar China, selain melayani pasar Korea dan
Jepang saat ini. Kartono menilai pasar manufacturing China kini tengah
berkembang. Sementara pasar New Zeleand yang baru dijalal TRIS juga
telah memberikan hasil baik di akhir 2014.
Kartono menargetkan
penjualan akan tumbuh 17% untuk pasar ekspor. Targetnya antara lain UK
dan Eropa tumbuh 25% dari total ekspor, Australia naik 20%, Asia Tumbuh
12%. Sementara untuk pasar AS diharapkan tetap tumbuh 20%. Untuk jenis
produk ekspor, Kartono ungkapkan, TRIS akan terus meningkatkan produk
untuk golf, dan waterproof. "Waterproof di pasar dunia masih sedikit,
kita ke arah sana, sudah kita tambah resources sejak 2013 untuk
mewujudkan pasar ini," ujar Kartono.
Akusisi Setelah
berhasil mengakusisi Mido Uniform Pte Ltd - Singapura pada tahun 2014
dan berhasil mendesain dan memproduksi seragam cabin crew untuk anak
perusahaan Singapore Airlines Group, yaitu Silk Air, maka tahun ini TRIS
berencana mengakusisi lagi prusahaan distribusi untuk pemperkuat sektor
ritel. "Akusisi lain ada, masih tahapan pembicaran. Kelihatan ada satu
yang serius, tetapi awal tahun depan baru terwujud.
Lisa
ungkapkan perusahaan yang akan diakuisi itu bergerak di sektor ritel.
Akuisis dilakukan untuk perkuat distribusi network. TRIS sudah
menyiapkan dana Rp 50 miliar untuk akusisi tersebut. Sementara untuk
capex tahun ini, menurut Lisa, TRIS menganggarkan dana sekira Rp10-15
miliar. "Kita akan tambahan toko untuk produk Hallmark dengan biaya Rp5
miliar hingga Rp7 miliar, termasuk investasi awal untuk produk. Kita
juga gencar promo untuk produk lain, jadi biayanya sekitar Rp10 miliar,"
ujar Lisa. (Q-1)