Tol Sumatera Jadi Tulang Punggung Pengembangan Wilayah

RO/Micom
13/7/2018 22:35
Tol Sumatera Jadi Tulang Punggung Pengembangan Wilayah
(MI/RAMDANI)

PEMERINTAH terus melanjutkan pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera, yang menjadi tulang punggung (backbone) pengembangan wilayah. Hal itu sesuai dengan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Terdapat enam Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) di Pulau Sumatera, yakni Sabang-Banda Aceh-Langsa, Medan-Tebing Tinggi-Dumai-Pekanbaru, Batam-Tanjung Pinang, Sibolga-Padang-Bengkulu, Jambi-Palembang-Pangkal Pinang-Tanjung Pandan, dan Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung Api-Api.

Kehadiran jalan tol, bertujuan mempercepat mobilitas barang dan jasa antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, dan membangun keterkaitan antara pusat produksi (kawasan industri, pertambangan, perkebunan, pariwisata) dengan outlet-outlet (pelabuhan/bandara) di Pulau Sumatera.

"Jalan tol Lampung-Palembang akan mempersingkat waktu tempuh dari sekitar 8-10 jam menjadi 3-4 jam. Kedua kota ini akan menjadi lebih dekat sehingga meningkatkan interaksi ekonomi kedua kota, dan menumbuhkan pusat ekonomi baru. Hal yang sama juga terlihat dengan terhubungnya tol dari Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi sepanjang 61,7 km yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, di Jakarta, Rabu(11/7).

Dalam rangka penyelesaian pembangunan Tol Sumatera, pemerintah menugaskan PT. Hutama Karya melalui Pepres No.100/2014, dan Perpres No.117/2015 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera, untuk membangun 24 ruas tol, yang mana delapan ruas tol diantaranya ditargetkan rampung pada tahun 2019.

Herry menjelaskan pembangunan Tol Sumatera dilakukan dengan pendekatan berbeda. Pola sebelumnya, pembangunan tol dilakukan pada kawasan yang sudah berkembang karena membutuhkan pengembalian investasi. Namun kehadiran tol di Pulau Sumatera yang memiliki potensi ekonomi besar, diperlukan untuk mengurangi biaya logistik, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.

"Potensinya besar dan wilayahnya juga luas. Pembangunan jalan tol diharapkan mempercepat pengembangan wilayah di Pulau Sumatera baik pada jangka panjang 20 tahun, maupun jangka pendek dalam waktu lima tahun ke depan," tuturnya.

Dari sisi volume lalu lintas harian rata-rata (LHR), diakui Herry, memang masih rendah. Sehingga apabila ditawarkan kepada investor akan kurang menarik karena marginnya rendah. Oleh karena itu, digunakan skema penugasan kepada PT Hutama Karya atas nama pemerintah untuk merealisasikan Tol Trans Sumatera.

"Pada saat Tol Jagorawi dibuka dulu volume lalu lintasnya rendah namun terus bertumbuh," tegasnya.

Pemerintah selalu memegang prinsip kehati-hatian dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada PT Hutama Karya dalam membangun Jalan Tol Sumatera melalui penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN), dukungan konstruksi, kontrak konsesi, sekuritisasi aset, serta pemberian jaminan pemerintah.

Pada tahun 2015 dan 2016, pemerintah memberikan tPMN sebesar Rp5,6 triliun. Selain itu, pemerintah juga memberikan kontrak konsesi atas ruas Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) seksi Pondok Pinang-Jagorawi, dan kontrak konsesi Jalan Tol Akses Tanjung Priok yang dapat digunakan sebagai underlying asset/revenue untuk penerbitan obligasi/pinjaman berikutnya.

"Penambahan PMN kepada PT Hutama Karya direncanakan diberikan kembali pada tahun 2019. Saat ini dalam proses konsultasi untuk penerbitan surat jaminan atas ruas Pekanbaru-Dumai " jelas Kepala Subdirektorat Mitigasi Risiko APBN Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Riko Amir.

Hingga Juni 2018, sudah diresmikan sepanjang 81,92 km Tol di Sumatra, yakni Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi sepanjang 49,17 km, Tol Medan - Binjai Seksi 2-3 sepanjang 10,6 km, Palembang - Indralaya Seksi 1 (Palembang - Pamulutan) sepanjang 7,75 km, Bakauheni - Terbanggi Besar Sub Seksi 1 (Pelabuhan - Bakauheni) sepanjang 8,9 km, dan Bakauheni - Terbanggi Besar Sub Seksi 5 (Lematang-Kotabaru) sepanjang 5,50 km.

Untuk ruas Tol Palembang hingga Indralaya seksi 2 dan 3 sepanjang 14,25 km, sudah selesai konstruksinya. Targetnya, dapat dioperasikan pada akhir Juli 2018 untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games XVIII 2018 yang akan dibuka pada 18 Agustus 2018. Beroperasinya Tol Palembang Indralaya juga mempermudah akses menuju Jakabaring Sport City yang menjadi lokasi 14 venues pertandingan cabang olahraga Asian Games ke-18. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya