NasDem Kawal Peningkatan Kapasitas Kemaritiman

Ibnu Haykal
18/4/2015 00:00
NasDem Kawal Peningkatan Kapasitas Kemaritiman
(ANTARA/Andika Wahyu)
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI, Viktor Laiskodat melihat pembahasan mengenai optimalisasi potensi maritim Indonesia harusnya semakin diprioritaskan dalam kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Viktor yang juga Ketua Bidang Pertanian & Maritim DPP Partai NasDem ini melihat bahwa untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim, tidak hanya dari infrastruktur dan teknologi industri maritim hinga pemasaran produk saja, tetapi juga berkaitan dengan dukungan sumber daya manusia juga bidang pertahanannya.

"Soal maritim bukan hanya soal potensi kelautan dan eksploitasinya saja, tetapi bagimana membangun masyarakatnya. Ini soal politik, perekonomian, dan juga budaya," ujarnya tegas di Ruang KK V, Gedung Nusantara, Komplek DPR-RI Senayan Jakarta, Jumat (17/04). Viktor ungkapkan, Partai NasDem dari awal telah berkomitmen dan menunjukan konsistensi sebagai partai yang dalam embrio dan pendiriannya telah memandang sektor maritim sebagai pilar. Ia katakan bahwa dari awal pembentukan konsep dan visi misi organisasi dan partai, NasDem telah dalam mengkaji persoalan kemaritiman sebagai fokus dalam pembangunan.

Untuk itu, Viktor menilai kehadiran Partai NasDem di DPR-RI merupakan langkah strategis untuk menginisiasi kebijakan publik yang berorientasi pada revitalisasi kemaritiman Indonesia.  Peter A Halm, penasihat Kebijakan Ekonomi Senior bidang Logistik dan Infrastruktur dari Belanda, dalam seminar yang sama memaparkan kondisi Rotterdam yang merupakan pelabuhan terbesar di Eropa. Rotterdam memiliki pusat operasi lebih dari 12.000 perusahaan, dengan infrastruktur yang terancang dari sungai, kanal, dan jalur kapal. Halm mengungkapkan 6 kunci kesuksesan sektor maritim di Belanda, yakni SDM, inovasi, perdagangan, aksesibilitas, keselamatan dan lingkungan yang nyaman, serta keamanan dan stabilitas yang terjaga.

Anggota Dewa Kelautan Indonesia yang juga pengajar Kebijakan Publik di Universitas Indonesia, Son Diamar mengatakan, jika dibandingkan dengan Belanda yang hanya memiliki Rotterdam, sesungguhnya Indonesia memiliki banyak daerah pantai yang potensial dibangun sebagai pusat pelabuhan perdagangan bertaraf internasional. Son Dimar kemudian menyebut kota bandar internasional yang potensional seperti Kota Agung, Lombok, Donggala, Batam, Sabang, Medan, Padang, Surabaya, Singkawang, Tarakan, Kupang, Bitung, Makassar, Ambon, Morotai, dan Sorong.

“Indonesia merupakan negara di lokasi strategis perdagangan dunia, karena 90% perdagangan dunia diangkut melewati laut, dan 40% dari jumlah tersebut melewati Indonesia,” ungkap Son Diamar. Dengan kebijakan publik yang tepat, Son Diamar optimis jika fokus pembangunan ekonomi Indonesia berbasis sumber daya alam dan kemaritiman dalam 10 tahun ke depan, seharusnya dapat menyerap 60 juta orang tenaga kerja, dan mampu menghidupi 180 juta penduduk. (RO/*/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya