BI Prediksi Neraca Dagang Juni Alami Surplus

Tesa Oktiana Surbakti
09/7/2018 20:53
BI Prediksi Neraca Dagang Juni Alami Surplus
(AFP)

BANK Indonesia memandang neraca perdagangan Juni 2018 berpotensi surplus sekitar US$ 900 juta. Optimisme tersebut mengacu pada arus impor yang mulai mereda, setelah neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2018 mencatatkan defisit US$ 2,83 miliar.

"Saya perkirakan neraca perdagangan (Juni) ini kemungkinan akan surplus kurang lebih US$ 900 juta. Dalam beberapa bulan terakhir memang impornya cukup kuat karena beberapa hal, misal terkait alat-alat strategis, kebutuhan infrastruktur dan bahan makanan jelang Lebaran," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai peluncuran Online Single Submission (OSS), Senin (9/7).

Perkembangan kinerja impor, sambung dia, tidak lepas dari faktor musiman seperti bulan Ramadan. Hal itu terlihat dari defisit neraca perdagangan Mei 2018 sebesar US$ 1,52 miliar yang didorong kenaikan impor barang konsumsi.

Setelah Ramadan berlalu, pihaknya meyakini kinerja ekspor tidak akan terlalu tergerus kinerja impor yang sebelumnya melonjak signifikan. Perry turut menekankan capaian defisit transaksi berjalan (CAD) triwulan II 2018 yang akan lebih tinggi dari triwulan I 2018, merupakan hal normal dikarenakan pengaruh faktor musiman.

"Dengan mulai meredanya (perkembangan impor), neraca perdagangan akan mengalami surplus. Ekspor masa Lebaran kemarin agar terbatas karena lamanya hari. Secara keseluruhan tidak usah khawatir. Bahwa triwulan II memang secara musiman neraca transaki berjalan defisitnya memang agak lebih tinggi dari triwulan I itu secara musiman ya begitu. Secara tahunan kita perkirakan di triulan III-IV 2018, CAD akan menurun. Sehiingga masih lebih rendah dari 2,5% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto)," urai Perry.

Menyoroti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang semakin memanas, Bank Indonesia terus mencermati dampak yang berpotensi menghantam aspek perekonomian Indonesia. Sebab, ketegangan perang dagang sudah mengancam laju pertumbuhan ekonomi global.

Dampak perang dagang disebutnya tidak hanya menurunkan kinerja ekspor dan impor secara bilateral, namun merembet ke negara mitra dagang. Tidak sampai di situ, perang dagang pun berpotensi mengguncang sektor keuangan dengan timbulnya respon kebijakan moneter di AS melalui kenaikan tingkat suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR).

"Karena perang dagang atau ketegangan antara kedua negara itu akan menurunkan ekspor dan impor, berikut pertumbuhan kedua negara. Itu kemudian akan merambat juga ke negara-negara lain. Jadi tidak hanya akan merugikan kedua negara, tetapi seluruh dunia.

Ini juga akan berpengaruh terhadap sektor keuangan, kemudian menimbulkan respon kebijakan moneter di AS dengan suku bunga lebih tinggi, risiko di pasar keuangan juga tinggi, Itu membuat penarikan modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," jelasnya.

Meningkatnya ketidakpastian pasar global, sambung dia, mendorong sejumlah negara mengeluarkan kebijakan yang memperkuat daya saing pasar keuangannya. Hal itu turut dilakukan Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reserve Repo Rate/DRRR) menjadi 5,25%.

Di satu sisi, Perry menggarisbawahi urgensi strategi memperkuat permintaan dalam negeri. Berikut upaya pengendalian CAD dan mendorong masuknya arus modal asing.

"Kebijakan itu kombinasi pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kementerian terkait. Harus dipastikan juga ketahanan ekonomi kita kuat untuk stabilitasnya. Kami juga mencari terobosan baru untuk mendorong ekonomi kita, baik dari dalam maupun luar negeri. Caranya melalui sektor pariwisata, ekspor (produk) berdaya saing tinggi dan mendorong produksi dalam negeri untuk substitusi impor," tandasnya.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya