Ada yang menarik dari sambutan Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil pada pelantikan enam pejabat eselon 1 di kementeriannya di Jakarta, Selasa (14/4). Setelah para pejabat eselon 1 tersebut diambil sumpahnya, Sofyan menyoroti naskah sumpah pegawai negeri yang menurutnya kurang generik dan rasional. "Orang yang membuat sumpah ini di masa lalu mungkin orang yang terlalu jujur," ujarnya setengah berkelakar yang disambut oleh gelak tawa jajaran pejabat yang hadir.
Sofyan mencontohkan penggalan sumpah yang dinilainya 'terlalu jujur', diantaranya kalimat, 'Bahwa saya tidak akan menerima hadiah atau pemberian berupa apa saja dari siapapun juga yang saya tahu atau patut dapat mengira bahwa ia bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya'. Menurutnya bunyi sumpah tersebut kurang realistis. Namun, Sofyan menekankan bahwa hal tersebut bukan mengindikasikan pemerintah memberi lampu hijau kepada koruptor di kalangan PNS.
"Jangan berpikir kalau itu artinya saya membenarkan korupsi. Tapi teksnya tidak akan menerima apapun juga. Kalau dia diundang makan itu melanggar sumpah. Ini sumpah teks ini harusnya dilihat yang penting jangan korupsi, jangan merugikan negara," ujar Sofyan tajam. Menurutnya, seorang PNS memang kerap menerima gratifikasi dimana dalam batas tertentu masih dapat diterima. Ia mencontohkan secara langsung pulpen yang disematkan dikantungnya. Pulpen tersebut menurutnya diberikan oleh salah satu hotel di Jakarta saat dirinya menginap. "Ini mungkin harganya hanya sekitar US$5, itu kan sah saja. Tapi janganlah sedikit-sedikit melanggar sumpah. Berat itu," imbuh Sofyan. "Teks sumpah ini harus kita ubah menjadi lebih rasional. Nanti kita pikirkan untuk merubah teks sumpah pegawai negeri." (Fat/E-2)