Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GENDERANG perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok semakin menggema. Masing-masing negara dengan ekonomi terbesar saling menebar ancaman pemberlakuan tarif impor sebagai strategi proteksionisme.
Dampak dari perang dagang pun meluas ke negara-negara mitra termasuk Indonesia. AS bahkan berencana menghentikan perlakuan khusus terhadap 124 komoditas yang diimpor dari Indonesia. Defisit neraca perdagangan AS terhadap Indonesia menjadi pemicu kebijakan tersebut. Per Mei 2018, ekspor non migas Indonesia ke AS meningkat hingga US$ 143,4 juta (month-to-month/m-to-m). Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan pemerintah berupaya melakukan lobi kepada AS.
“Kita lobi, kita kirim surat. Kalau bisa lakukan lobi, kenapa tidak. Kita sudah bicara dengan mengirimkan surat kepada USTR (United States Trade Representative), juga kepada Duta Besar AS di sini. Kita lobi lah,” ujar Enggartiasto usai rapat koordinasi di Kemenko Bidang Perekonomian, Jum’at (6/7).
Posisi Indonesia, lanjut dia, tidak mendukung adanya perang dagang. Terjadinya perang dagang membawa dampak negatif dalam iklim perdagangan global. Meski yang bersitegang adalah AS dan Tiongkok, namun dampak negatifnya diyakini bakal meluas.
“Kita berpendapat bahwa trade war adalah sesuatu yang tidak baik. Karena nanti trade war antara AS dengan Tiongkok, dengan Kanada, secara keseluruhan akan memberikan dampak tidak baik pada perdagangan (global),” tukasnya.
Adapun Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan dampak perang dagang sangat sensitif terhadap industri sektor baja. Industrialis dikatakannya harus menyiapkan strategi agar Indonesia tidak kebanjiran baja impor, khususnya dari Tiongkok.
Dampak dari banjir produk impor dikatakannya berpotensi menurunkan utilitas produksi baja domestik. Potensi banjir produk impor juga membayangi industri sektor keramik. Dia menekankan sulit bagi industri keramik golongan kelas menengah ke bawah untuk bersaing dengan produk impor di tengah belum efektifnya penurunan harga gas industri.
“Jadi untuk industri (keramik) yang tidak mendapatkan (harga) gas sesuai dengan apa yang diharapkan. Ditambah lagi kebanjiran impor, maka industri itu kena double hit. Cara penghematan lainnya adalah subsitusi impor, khususnya bahan baku. Ini kita dorong untuk investasi. Pemerintah juga genjot industri immediately yang bisa langsung menghemat devisa,” papar Airlangga ditemui di lokasi yang sama.
Terhadap kebijakan AS yang mengkaji perlakuan khusus terhadap komoditas impor dari Indonesia, Airlangga menilai hal tersebut tidak perlu terlalu dirisaukan. Apabila kebijakan tersebut direalisasikan, maka Indonesia akan mengimpor komoditas serupa dari negara lain. Dengan begitu neraca dagang Indonesia terhadap AS tidak mengalami guncangan hebat.
“Ya AS mengurangi impor produk, tentu kita cari produk (impor baru). Tentu langkah berikutnya harus antisipasi, kan sebetulnya banyak kepentingan ekonomi AS di Indonesia,” jelasnya.(OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved