Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN nilai tukar petani (NTP) nasional periode Juni 2018 sebesar 102,4 atau naik 0,05% jika dibandingkan dengan di periode sebelumnya. Kenaikan itu menjadi cerminan perbaikan daya beli petani di wilayah perdesaan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan NTP Juni 2018 dipengaruhi kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,36%. Capaian tersebut lebih besar daripada kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,30%. Dalam hal ini, NTP turut menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
"Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani," tutur Kepala BPS Suhariyanto, kemarin.
Kenaikan NTP dipengaruhi naik-nya NTP hampir seluruh subsektor, kecuali perkebunan. "Kenapa turun? Karena ada penurunan indeks harga yang diterima petani, sedangkan harga yang dibayar petani naik. Selain itu, terdapat pengaruh penurunan harga komoditas, khususnya minyak kelapa sawit (CPO) dan kakao. Selebihnya NTP subsektor lain tumbuh menggembirakan," kata Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto.
Nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) periode Juni 2018 juga naik 0,12% menjadi 111,51. Kenaikan itu dipicu naiknya hampir seluruh NTUP subsektor, yakni ta-naman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan.
Soal harga beras, berdasarkan pantauan BPS, rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sepanjang Juni 2018 tercatat Rp9.135 per kilogram atau turun 0,60% ketimbang di bulan sebelumnya (month to month). "Komoditas beras kini memberikan andil deflasi terhadap laju inflasi Juni 2018 sebesar 0,59%," ujar Kecuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved