Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Sri Mulyani mengatakan tekanan yang terjadi akibat perekonomian global seperti normalisasi kebijakan The Fed dan ancaman perang dagang masih akan terjadi dalam waktu yang panjang. Ia memprediksi tekanan tersebut setidaknya akan berlangsung 8 bulan hingga satu tahun ke depan.
"Ini (tekanan global) tidak akan berjalan 2 bulan, tapi laporan kami ke Presiden ini akan baerjalan hingga tahun depan atau setidaknya 8 bulan. Kita fokus 12 bulan ke depan dalam situasi new normal," ujar Sri dalam rapat dengan Komisi XI di Gedung DPR Jakarta, Senin (2/7).
Meski tekanan berlangsung lama, namun Sri menampik jika Indonesia juga akan terus mengalami volatilitas selama masa tersebut. Sebab pemerintah bersama BI, OJK, dan LPS terus bersiap dengan kebijakan jangka panjang agar tetap menjaga momentum pertumbuhan.
"Ketegangan yang masih berlanjut maka kita harus melihat dengan menjaga secara jangka panjang, karena ini tidak hanya suatu yang sifatnya seminggu," tukasnya.
Ia mengatakan kebijakan jangka panjang yang diambil yakni melalui bauran kebijakan antara fiskal, moneter, dan riil yang saling mengisi. Ia mencontohkan seperti yang dilakukan BI, meski BI menaikkan suku bunga menjadi 5,25% namun disisi lain BI melakukan relaksasi kredit LTV. Dari sisi fiskal, Kemenkeu juga memberikan kemudahan dan insentif untuk investasi, diantaranya melalui tax holiday dan online single submission (OSS).
"Gejolak ini dampaknya akan membuat beberapa indikator mengalami pergerakan yang bisa memberikan tekanan ke pertumbuhan ekonomi, agar tidak memberikan dampak yang terlalu besar kita lakukan beberapa relaksasi sehingga bisa menyesuaikan," tukasnya.
Menurut Sri, relaksasi yang diberikan untuk investasi itu penting karena investasi ialah yang paling terdampak oleh perekonomian global. Meski demikian, pemerintah berharap pertumbuhan investasi tetap mencapai target pertumbuhan sebesar 8% pada tahun ini.
"Caranya walau suku bunga naik tapi BI berikan relaksasi di sektor properti, OJK sedang melihar ruang di perbankan dan kami berikan insentif investasi, itu untuk melindungi momentum investasi," pungkasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved