Langkah pemerintah yang akan mempercepat pembangunan infrastruktur di Tanah Air dapat mendorong kredit investasi perbankan nasional. Akan tetapi, porsi kredit investasi dinilai masih di bawah 30% terhadap total kredit perbankan. "Infrastruktur porsinya mungkin bisa dorong kredit investasi tapi masih kurang dari 30%," ujar Analis PT ICRA Indonesia, Kreshna D Armand, dalam konferensi pers diskusi ulasan kinerja 2014 dan prospek 2015 untuk sektor perbankan, pertambangan, dan property, di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Kamis (9/4).
Kreshna menyebut terdapat sejumlah faktor yang akan menghambat penyaluran kredit investasi yakni tekanan ekonomi dari dalam dan luar negeri. Apalagi, karakter kredit infrastruktur yang lama juga memerlukan banyak waktu untuk persiapan sebelum benar-benar direalisasikan.
Sejauh ini dia menyebut penggunaan kredit investasi perbankan mencapai 24,6% dan akan stagnan sepanjang tahun. Jumlah itu lebih kecil ketimbang kredit konsumsi 25%-27% dan terbesar di kredit modal kerja sebesar 45%-47%. "Untuk pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan tidak akan drastis terdongkrak dari wacana itu. Kan pembebasan lahan masih jadi halangan," lanjutnya. Kresna memproyeksikan, kedit perbankan secara keseluruhan akan bertumbuh di kisaran 13%-15% di 2015 melihat politik yang lebih stabil di tengah reformasi dan dinamika ekonomi baik nasional maupun global terutama pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS). (Ire/E-5)