Mendag Ingatkan Negara Kawasan Kedepankan Fleksibilitas

Dero Iqbal Mahendra
01/7/2018 22:12
Mendag Ingatkan Negara Kawasan Kedepankan Fleksibilitas
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan pandangan dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Ke-5 di Tokyo, Jepang, Minggu (1/7/2018)(Humas Kemendag)

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita kembali menekankan kepada sejumlah negara peserta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) ke 5 di Tokyo untuk mengedepankan fleksibilitas dalam perundingan guna menuju terwujudnya kesepakatan RCEP.

Dalam rapat RCEP Menteri Perdagangan Indonesia mendapatkan kesempatan menyampaikan terkait persoalan revisi ketiga batas tarif dan juga nilai perdagangan antar negara-negara peserta RCEP dalam upaya mencapai tarif final yang moderat.

"Ada sejumlah peningkatan dalam penawaran ketiga yang ditunjukkan oleh para negara peserta, khususnya terkait dengan penghilangan tarif ketegori. Namun pada saat yang sama saya concern atas adanya disparitas dari kualitas tawaran yang ada, khususnya dari para negara mitra," ujar Enggar dalam rapat RCEP ke 5 sebagaimana dilaporkan Dero Iqbal Mahendra dari Tokyo, Jepang, Minggu (1/7).

Dirinya menyampaikan bahwa banyak tawaran tersebut masih lebih rendah dari target yang memang sudah disepakati. Selain itu meski ada peningkatan namun ukuran daftar pengecualian dari sejumlah negara peserta masih jauh dari kata kredible.

Oleh sebab itu dirinya meminta pihak pihak terkait untuk mengerjakan berdasarkan acuan 'ASEAN's proposal to improve Tariff Offers' yakni agar setiap pihak dapat meningkatkan penawarannya dengan parameter yang jelas dan terjadwal.

Lebih lanjut dirinya menekankan bahwa dalam perundingan setiap pihak peserta harus memiliki sikap fleksibilitas dalam memproses perundingan RCEP. Sebab tanpa adanya fleksibilitas perundingan tersebut tidak akan memiliki progres yang signifikan.

"Kita harus fleksibel, tetapi fleksible itu harus dua arah. Sehingga ketika suatu negara merequest fleksibilitas negara lain maka pada saat yang sama mereka juga harus fleksible atas orang lain. Anda tidak bisa duduk disana dan hanya meminta orang lain fleksible untuk anda karena harus berlaku dua arah," terang Enggar.

Pernyataan juga didukung oleh Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Chan Chun Sing yang mengakui adanya sejumlah tantangan dalam proses dari suatu perundingan apapun. Namun hal yang terpenting adalah seua pihak berkomitmen untuk menjalani proses dengan keyakinan yang baik.

"Tantangan dapat dibicarakan secara terbuka, persoalan persoalan sensitif dapat dibuka secara terbuka dan setiap dari kami membuat perhitungan maksimal fleksibilitas kepada posisi kita dimana ingin berada," jelas Chan.

Dalam kesempatan yang berbeda Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo yang juga merupakan Ketua Perunding RCEP mengakui bahwa setiap negara memiliki tingkat sensitifitas yang berbeda beda. Mislanya dalam hal akses pasar untuk barang, jasa dan investasi.

Namun pada saat yang sama, untuk mempercepat proses perundingan setiap delegasi juga harus sudah mempersiapkan timnya dengan baik sebelum maju kedalam perundingan sehingga dapat efektif. Jangan sampai ketika perundingan berjalan delegaasi tidak dapat memberikan keputusan atau masih akan melkukan konsultasi. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya