Rupiah Melemah, Fundamental Ekonomi Disebut masih Kuat

Tesa Oktiana Surbakti
28/6/2018 22:15
Rupiah Melemah, Fundamental Ekonomi Disebut masih Kuat
(ANTARA)

PERGERAKAN nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah gejolak eksternal. Menyikapi besarnya tekanan eksternal, pemerintah terus memperkuat kebijakan ekonomi makro. Baik dari sisi kebijakan fiskal, moneter hingga neraca pembayaran.

"Dari sisi pergerakan (rupiah) ini ada yang berasal dari faktor eksternal dan internal. Hal yang bisa kita kontrol terutama yang berhubungan dengan framework kebijakan makro. Apakah dari sisi fiskal, moneter dan neraca pembayaran agar yang disebut vulnerabilitas dan kerawanan itu tetap bisa ditekan," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani usai sosialisasi Perpres Nomor 16 Tahun 2018, Kamis (28/6).

Terkait kebijakan fiskal, pemerintah berupaya menjaga defisit anggaran agar tidak melampaui target APBN 2018 sebesar 2,19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hingga akhir Mei 2018, realisasi defisit anggaran sebesar 0,64% dari PDB. Di samping itu, pemerintah melakukan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) secara terjadwal untuk menyokong aspek pembiayaan.

Pemerintah pun melaporkan realisasi penerimaan dan belanja negara dengan rutin agar kepercayaan pasar tetap kuat. Berdasarkan pantauan Reuters, nilai tukar rupiah pada 28 Juni 2018 tercatat Rp14.308 per dolar Amerika Serikat (AS). Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat perdagangan rupiah sebesar Rp14.271 per dolar AS.

"Untuk kebijakan fiskal, defisit tetap kita jaga. Dan apa yang disebut jadwal penerbitan SUN dan pelaksanaan dari sisi penerimaan berikut belanja, akan terus disampaikan. Ini agar ada yang namanya kepercayaan, meskipun terjadi perubahan yang cukup besar," pungkas Bendahara Negara.

Lebih lanjut, Ani, sapaan akrabnya, menekankan pemerintah terus bekerja sama dengan Bank Indonesia dari sisi kebijakan moneter. Bank Sentral diketahui fokus menjalankan kebijakan jangka pendek dalam memperkuat stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah. Di antaranya melalui kebijakan preemptive, front-loading, dan ahead the curve dalam menghadapi perkembangan arah kebijakan The Federal Reserve di mana terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali sepanjang 2018.

"Pak Gubernur Bank Indonesia sudah menyampaikan kebijakan moneternya dan kita akan terus bekerja sama. Dan dari sisi external balance akan terus diperbaiki meskipun dampaknya jangka menengah panjang. Dari sisi instrumen itu adalah hasil dari pergerakan baik itu sentimen market maupun fundamental. Jadi dua-duanya kita akan pelihara," imbuh Ani.

Dia kembali menekankan upaya mitigasi menjadi suatu keharusan dalam menghadapi gejolak global yang salah satu pemicunya bersumber dari kebijakan pemerintah AS. Tidak dapat dinafikkan bahwa perubahan kebijakan tersebut berdampak terjadap penguatan dolar AS dan keluarnya arus modal (capital outflow) dari negara berkembang. Kendati demikian, dia memandang fundamental dan kekuatan ekonomi domestik masih kuat.

"Jadi kita lihat selama mencerminkan suatu fundamental dan kekuatan ekonomi yang tidak berubah atau bergerak jauh dari faktor positifnya, ya kita lihat ini sebagai adjusment yang normal," tandasnya. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya