Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SINYAL yang dilontarkan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-day repo rate (7-DRR) tidak berhasil membuat nilai tukar rupiah menguat.
Tekanan pasar akibat sentimen global terkait dengan perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok serta pengetatan kebijakan moneter bank sentral di Eropa membuat sinyal yang dilontarkan BI tidak cukup efektif. BI harus merealisasikan kenaikan suku bunga kebijakannya sebesar 25 basis points (bps) pada Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar hari ini dan besok.
"Rupiah dalam beberapa hari ini tertekan. Ini menjadi satu faktor saya kira yang membuat BI akan menaikkan suku bunga BI 7-DRR," kata ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin.
Lana memperkirakan kalaupun nilai tukar rupiah menguat, akan berada di kisaran 14.000-14.100. Bila tekanan global sudah turun dan di dalam negeri permintaan dolar sudah menurun, perlu dipertimbangkan agar rupiah dibawa pada level yang lebih kuat di bawah 14.000 per dolar AS.
"Dalam tiga tahun terakhir rupiah bergerak masih dalam kondisi normal, dengan tertinggi di 14.653," tukas Lana.
Terkait dengan dana untuk intervensi pasar valas, Lana mengatakan perlu dipertimbangkan perubahan aturan guna membuat eksportir lebih cepat membawa devisa yang diperolehnya masuk ke dalam negeri. Saat ini devisa hasil eskpor boleh enam bulan diparkir terlebih dahulu. Ke depannya perlu perubahan aturan menjadi tiga bulan.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan ialah dalam rangka penerbitan surat utang. Saat ini dalam penerbitan surat utang, porsi dalam negeri sebesar 70% dan luar negeri sebesar 30%.
Ke depan, kata Lana, untuk semester II bisa dinaikkan porsi asing menjadi 40% dan dalam negeri 60%.
"Dengan begitu, kalau pemerintah menerbitkan global bond, akan dapat dolar AS. Dolar ini akan menjadi ca-dangan devisa," tandasnya.
Mengenai pelonggaran aturan guna mendorong pe-ngucuran kredit, ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan hal itu baru berpengaruh sebatas pada kredit di sektor properti. Dengan demikian, dampaknya tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit.
"Loan to value (LTV) hanya sebatas mendorong kredit properti. Adapun sektor kredit dominan lainnya seperti manufaktur, perdagangan, pertambangan, dan perkebunan masih lambat," ujar Bhima.
Indeks terus tertekan
Yang pasti, penaikan suku bunga akan terus memberikan sentimen kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Kenaik-an suku bunga membuat investasi di sektor keuangan lainnya seperti surat utang lebih berharga.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga akan menimbulkan tambahan beban bagi emiten yang memiliki utang dalam jumlah besar.
Kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI ditutup melemah sebesar 38,1 poin menjadi 5.787,55.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada seperti dikutip dari Antara mengatakan kekhawatiran akan terjadinya potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok mewarnai laju sejumlah bursa saham Asia yang cenderung kembali mengalami pelemahan.
Frekuensi perdagangan, tercatat sebanyak 418.917 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 8,95 miliar lembar saham dengan nilai Rp7,37 triliun. Sebanyak 171 saham naik, 206 saham menurun, dan 114 saham tidak bergerak. (E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved