Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SECARA tradisional, perempuan sering diasosiasikan sebagai gender yang senang berbelanja. Apakah hal yang sama berlaku dalam konteks pembelanja online? Jawabannya tidak.
Dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Selasa (26/6), Priceza mengungkapkan bahwa pria merupakan pembelanja daring mayoritas di Indonesia. Hal itu pun ternyata bukan sesuatu yang baru ataupun anomali, karena telah terjadi selama 3 tahun berturut-turut dengan selisih proporsi yang signifikan.
Dalam tiga tahun terakhir, pembelanjaan daring pria berkontribusi sekitar 63% - 67%, sedangkan wanita hanya sekitar setengahnya (33% - 37%). Memang ada tren kenaikan proporsi gender perempuan dalam tiga tahun terakhir, tetapi tidak terlalu mencolok.
Sekadar referensi tambahan dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), perbandingan persentase pengguna internet wanita berbanding laki-laki tidak terlalu jauh, hanya 48,6% dan 51.4%.
Mayoritas pengunjung Priceza mengakses dari ponsel cerdasnya, dengan persentase yang signifikan dan tren yang terus positif, dari 68% di 2015 hingga 80% di 2017.
Sementara itu, jumlah pengguna dari desktop tergerus dari 26% hingga 17%. Di luar dikotomi itu, sebagian kecil pengunjung mengakses dari peranti alternatif.
"Sebagaimana disadari dan dialami oleh kita semua, kini kita telah memasuki era seluler (mobile). Dan hal yang sama juga berlaku untuk ranah e-commerce," ujar Bayu Irawan, Co-Founder & Country Head Priceza Indonesia.
Bayu menambahkan, hal itu juga sepertinya disadari oleh para pemain di industri ini, yang dapat dijumpai responsnya dalam rupa pengembangan aplikasi (atau 'app') ataupun promo yang mendorong penggunaan aplikasi. Implikasinya, kemudahan dan kenyamanan aplikasi ataupun tampilan seluler (mobile web) menjadi faktor krusial dalam memikat hati dan calon pembeli.
Selanjutnya, berdasarkan temuan Priceza, terdapat lima kota besar di Indonesia yang menjadi sumber utama dari kunjungan (traffic) ke berbagai toko daring, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.
Selama 3 tahun berturut-turut, komposisi nama kota yang menjadi sumber utama kunjungan tidak berubah sama sekali. Mereka adalah Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.
Komposisi itu pun menduduki peringkat yang nyaris selalu konsisten sesuai urutan tersebut. Ada sedikit pengecualian di 2016, Ketika Bandung berhasil menggeser Medan di peringkat ketiga, namun dengan selisih yang begitu tipis.
Terakhir, menarik untuk dicermati bahwa urutan kota-kota ini pun mencerminkan peringkat dalam hal populasi. Inilah lima kota terbesar di Indonesia dalam hal populasi, yang juga seragam dengan urutannya dalam hal kota dengan pembelanja online terbanyak.
Ini menunjukkan bahwa penetrasi internet di kota-kota besar di Indonesia memang cukup tinggi dan merata. Seperti dikutip dari APJII, penetrasi internet di kawasan perkotaan (urban) mencapai 72,4% di 2017.
Sebagai tambahan, menarik untuk dicermati bahwa ada tren kenaikan dari kelima kota tersebut dari tahun ke tahun. Di 2015, kota-kota tersebut berkontribusi tidak sampai 50% dari total kunjungan. Sedangkan di 2017 kondisinya berubah drastis, 80% lebih kunjungan berasal dari kota terbesar di Indonesia.
Dari data tersebut dapat diinterpretasikan bahwa pengunjung dari kota atau desa kecil semakin tenggelam dibandingkan kota utama tadi. Hal ini segaris dengan survei APJII, yang menemukan penetrasi internet di daerah kota kecil dan pedesaan baru nyaris mencapai angka 50%. (RO/OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved