Pemerintah Genjot Kinerja Ekspor

Tesa Oktiana Surbakti
26/6/2018 07:50
Pemerintah Genjot Kinerja Ekspor
()

PEMERINTAH berupaya mengatasi defisit neraca perdagangan agar tidak memengaruhi kondisi perekonomian. Salah satunya dengan mendorong ekspor.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Selain Menkeu dan Menko Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso juga hadir dalam pertemuan yang membahas kondisi ekonomi global, regional, dan dalam negeri tersebut.

Menurut Sri Mulyani, pihaknya akan terus melihat dari sisi sektor riil dan kebijakan bisa difokuskan untuk membantu neraca pembayaran. "Kami akan terus melihat bagaimana policy terus difokuskan untuk membantu neraca pembayaran kita, terutama dari transaksi berjalan bisa dikurangi," kata Ani, sapaan akrabnya.

Menurut dia, jika ingin menjaga defisit perdagangan, diperlukan kebijakan-kebijakan yang mendukung ekspor, termasuk pariwisata, juga memperkuat pembangunan industri yang menyubstitusi produk impor.

Langkah memacu ekspor dan meningkatkan sektor pariwisata, sambung dia, setidaknya dapat meredam kontribusi negatif impor terhadap capaian produk domestik bruto (PDB).

Selain konsumsi rumah tangga, ekspor dan investasi memiliki andil cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Ani, sapaan akrab Menkeu Sri, berharap semakin banyak pelaku industri yang menggarap industri berorientasi bahan baku sehingga kebutuhan bahan baku atau penolong dari industri hilir dapat disokong suplai dalam negeri. Bila ketergantungan akan bahan baku impor berkurang, defisit transaksi berjalan (CAD) pun dapat ditekan.

Kendati demikian, dia mengamini dibutuhkan proses panjang untuk mengubah orien-tasi sektor industri. Di satu sisi, dia memandang kinerja ekspor mengalami peningkatan. Itu tecermin pada nilai ekspor Mei 2018 yang sebesar US$16,12 miliar, atau naik 10,90% ketimbang April 2018. Tren positif dari kinerja ekspor, imbuh dia, harus dipertahankan sebagai strategi jangka pendek.

"Jangka menengah panjang, pemerintah akan terus meningkatkan policy untuk bangun industri dalam negeri sehingga kebutuhan barang antara dan modal bisa dipenuhi dalam negeri," pungkas Ani.

Barang konsumsi

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi defisit neraca perdagangan pada Mei sebesar US$1,62 miliar.

Angka tersebut memang menurun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat US$1,63 miliar. Namun, angka defisit di Maret dianggap masih besar. "Fokus kita mendorong supaya defisit neraca perdagangan cepat selesai," kata Darmin Nasution di kantornya, kemarin.

Darmin mengatakan defisit bulan lalu memang disebabkan tingginya impor, terutama untuk bahan konsumsi. Data BPS menyebutkan impor barang konsumsi pada Mei mencapai US$1,73 miliar, atau tumbuh 34,01%.

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu mengatakan, untuk mengembalikan neraca dagang ke arah surplus, yang perlu dilakukan ialah mendorong ekspor. Saat ini pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai insentif untuk kegiatan investasi yang berorientasi ekspor. (Pol/X-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya