Ekspor Perlu Ditingkatkan

Tesa Oktiana Surbakti
26/6/2018 00:30
Ekspor Perlu Ditingkatkan
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PEMERINTAH berupaya mengatasi defisit neraca perdagangan agar tidak memengaruhi kondisi perekonomian. Salah satunya dengan mendorong ekspor. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, kSenin (25/6). Selain Menkeu dan Menko Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso juga hadir dalam pertemuan yang membahas kondisi ekonomi global, regional, dan dalam negeri tersebut.

Menurut Sri Mulyani, pihaknya akan terus melihat dari sisi sektor riil dan kebijakan bisa difokuskan untuk membantu neraca pembayaran. “Kami akan terus melihat bagaimana policy terus difokuskan untuk membantu  neraca pembayaran kita, ter-utama dari transaksi berjalan bisa dikurangi,” kata Menkeu seusai pertemuan.

Menurut dia, jika ingin menjaga defisit perdagangan, diperlukan kebijakan-kebijakan yang mendukung ekspor, termasuk pariwisata, juga memperkuat pembangunan industri yang menyubstitusi produk impor.

“Kami juga membahas apa respons secara bersama dari sektor riil seperti Menko Perekonomian, dari kami (Kementerian Keuangan) dari sisi apakah insentif, apakah kemudahan, apakah itu dari perpajakan, dari bea cukai, kepabeanan, dan juga dari macroprudential-nya Bank Indonesia serta macroprudential policy-nya di OJK,” katanya.

Untuk diketahui, dalam beberapa bulan terakhir neraca perdagangan Indonesia terus mengalami defisit. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi defisit neraca perdagangan pada Mei sebesar US$1,62 miliar. Angka tersebut memang menurun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat US$1,63 miliar. Namun, angka defisit di Maret dianggap masih ­besar.

“Fokus kita mendorong supaya defisit neraca perdagangan cepat selesai,” kata Menko Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, kemarin.

Barang konsumsi
Darmin mengatakan defisit bulan lalu memang disebabkan tingginya impor teruta-ma untuk bahan konsumsi. Data BPS menyebutkan impor barang konsumsi pada Mei mencapai US$1,73 miliar atau tumbuh 34,01%. Tak hanya barang konsumsi, menurut Kepala BPS Suhariyanto, impor bahan baku atau penolong periode Mei 2018 pun naik 9,02% (m-to-m) dengan nilai US$13,11 miliar. Impor bahan baku atau penolong memiliki kontribusi mayoritas terhadap struktur impor Mei 2018, yakni 74,30%

Menurut Darmin, untuk mengembalikan lagi neraca dagang ke arah surplus, yang perlu dilakukan ialah mendo-rong ekspor. Saat ini pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai insentif untuk kegiatan investasi yang berorientasi ekspor.

Selain itu, kata Darmin, pemerintah perlu menekan impor terutama barang konsumsi. Untuk impor jenis barang lainnya, seperti bahan baku atau bahan penolong, memang untuk saat ini belum bisa ditekan karena berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

“Kita enggak mau berlama-lama, segera kita selesaikan. Sebab, kalau tidak, dalam situasi keuangan global yang tidak menentu kita akan lebih tertekan. Sudah terpengaruh oleh AS yang menaikkan tingkat bunga, kemudian ada lagi persoalan neraca perdagangan yang defisit.” (Pol/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya