Ekuilibrium Baru Nilai Tukar Cermin Surutnya Kepercayaan Investor
Fathia Nurul Haq
06/4/2015 00:00
(ANTARA/Wahyu Putro A)
NILAI tukar rupiah yang menembus kisaran RP 13.020,- per USD mencerminkan kepercayaan yang surut dari para investor terhadap pemerintah. Kendati pemerintah mengklaim pelemahan rupiah didominasi oleh faktor eksternal, ekonom berpendapat andil krisis global hanyalah sebesar 39%, yakni sebesar total hutang luar negeri dan investasi asing dalam APBN.
"Ada persoalan di level global, betul. Tapi persoalan pokoknya adalah fundamental ekonomi kita masih amat rentan, 39% surat hutang asing dan investasi asing yang menjadi trigger pelemahan rupiah. Nilai tukar itu adalah harga mata uang kita, yang jadi tolak ukur adalah demand dan supply. Mencerminkan kepercayaan investor terhadap pemerintah kita," ujar Pengamat Ekonomi Indef Enny Sri Hartati.
Enny menjelaskan kisaran nilai tukar rupiah yang berada diatas ambang yang diasumsikan oleh APBN, yakni Rp 12.500,- akan mencapai ekuilibrium baru. Menurut perhitungannya, ekuilibrium rupiah di kisaran Rp 13.000,- akan berlangsung selama tahun 2015, "kemungkinannya sulit untuk kembali ke kisaran Rp 12.500,- apalagi dibawah itu. Setelah tahun 2015, bisa saja menguat atau semakin melemah, tergantung efektifitas kebijakan pemerintah," jelasnya.
Enny konsisten dengan himbauannya agar upaya mitigasi pelemahan rupiah bukan hanya berkutat pada rencana jangka panjang maupun menengah. Pemerintah dinilai Enny perlu membuat upaya mitigasi yang aplikatif membendung pelemahan secara langsung.
Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Salamudin Daeng mengungkap pemerintah tidak sepatutnya mengklaim pelemahan rupiah baik bagi fundamental perekonomian dengan total jumlah hutang luar negeri Indonesia saat ini mencapai separuh dari Produk Domestik Bruto (PDB) akibat terdampak tingginya nilai tukar mata uang garuda.
"Defisit transaksi berjalan akan menjadi penyakit sepanjang masa selama sistem kita ini masih bergantung pada hutang luar negeri. Penyumbang terbesarnya adalah investasi asing dan ULN yang mecapai 3888 triliun kalau kursnya Rp 13.000,-," ujar dia dalam kesempatan yang sama.
Salamuddin mencermati banyaknya pengusaha asing yang diperingatkan oleh negara asalnya terkait pelemahan rupiah. Tingginya nilai tukar mencederai kepercayaan diri investor untuk berinvestasi di Indonesia alih-alih memberikan rasa aman.
Ketua Komisi Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Adler Manurung membenarkan bahwasannya beberapa pengusaha diuntungkan dengan adanya pelemahan rupiah terhadap dolar. Namun, ambang nilai tukar yang tinggi berimbas buruk bagi dunia usaha secara umum.
Secara terbuka Adler mengutarakan pengamatannya mengenai seringnya intervensi Bank Indonesia di pasar valas khususnya pada pada quartal 4.
Enny menanggapi instabilitas situasi perekonomian juga disebabkan oleh fluktuasi harga bbm yang dievaluasi tiap 2 minggu sekali. Ia menekankan pentingnya pemerintah mengedepankan stabilitas pasar disamping sekedar menuntut agar pasar mampu menjadi elastis menanggapi gejolak krisis global.
"Yang namanya dokumen APBN didalamnya ada asumsi itu tidak sekedar angka-angka. Itu adalah panduan yang akan kita jalankan.
Kalau semuanya selalu meleset seperti ini itu mempengaruhi kredibilitas pemerintah," tegasnya. (OL-3)