Coca Cola Amatil Realisasikan Investasi US$500 Juta
Tesa Oktiana Surbakti
01/4/2015 00:00
((AFP/BAY ISMOYO))
DI tahun 2014, The Coca Cola Company sempat menggaungkan rencana investasi senilai US$500 juta kepada anak perusahaan Coca Cola Amatil di Indonesia. Tidak sekedar omong kosong, tahun ini perusahaan yang tersohor dengan produk minuman karbonasi itu mengimplementasikan nilai investasi tersebut terhadap penambahan dua lini produksi baru di salah satu pabrik manufaktur yang berlokasi di Cikedokan, Bekasi, Jawa Barat.
Pabrik seluas 10 hektare tersebut sudah berdiri sejak tahun 2012 silam, namun hanya terdiri dua lini produksi. Kini, Coca Cola Amatil menambah dua lini produksi tambahan yang terdiri dari lini 2 untuk pengolahan produk teh dan lini 3 untuk minuman olahan buah-buahan. Adapun kapasitas produksi tiap lini berbeda-beda, dengan kapasitas maksimal 60.000 botol per jam. Sedangkan menilik pada kapasitas total produksi per tahun mencapai 450 juta liter.
Pabrik tersebut mengusung local content hingga 90%. Di samping perluasan lini produksi, penambahan investasi sebesar US$ 500 juta pada Coca Cola Amatil juga difokuskan akselerasi perluasan sistem produksi, infrastruktue untuk pengadaan minuman dingin (cold drink), penyimpanan (warehouse), perluasan rute pasar (market) dan jalur distribusi. Termasuk realisasi program pendukung yang mengusung kesejahteraan masyarakat dan penyelamatan lingkungan.
"Tidak ada yang memungkiri Indonesia pasar yang menjanjikan dengan potensi penduduk 250 juta jiwa. Coca Cola juga tidak sekedar invest, melainkan berkomitmen meningkatkan perekonomian di Indonesia. Kami yakin kunci dari keberhasilan usaha kami berdasar pada kekuatan partnership dan society," tutur Chairman and CEO The Coca Cola Company Muhtar Kent.
Investasi senilai US$500 juta dolar turut diproyeksikan mempercepat pertumbuhan bisnis di pasar Indonesia dalam tiga atau empat tahun mendatang. Hanya saja pihak CCA tidak menyebutkan secara detil berapa besar pangsa pasar (market share) yang dicapai. Adapun total nilai investasi yang telah ditanamkan CCA Indonesia selama 25 tahun terakhir mencapai US$ 1,2 milyar. Pernambahan investasi ini pun turut memberikan sumbangsih kesempatan kerja bagi masyarakat dengan proyeksi 60.000 sampai 135.000 jiwa.
"Secara langsung investasi baru juga menambah lapangan kerja, obviously tidak hanya di pabrik, tapi di jalur distribusi dan pemasaran. Dan ini merupakan kesempatan baik untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia," imbuh Kent.
Group Chairman Coca Cola Amatil David Gonski memproyeksikan hingga 2020, nilai ritel dari total kategori minuman siap saji non-alkohol seperti minuman berkarbonasi bakal meningkat hingga US$300 miliar. Indonesia sendiri termasuk salah satu segmen terbesar dalam pertumbuhan penjualan produk minuman tersebut. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong pertumbuhan penjualan produk di Indonesia. Hingga kini CCA sudah memasarkan 16 merek di pasar Indonesia dengan lebih dari 200 pusat distribusi dan lebih dari 520.000 outlet ritel berskala besar dan kecil.
"Sampai tahun 2020, kami tidak akan ragu berinvestasi di Indonesia. Makanya CCA terus menggenjot segala upaya untuk memperluas pasar. Kami juga bakal berinovasi dalam pembuatan produk untuk mengeruk pasar yang lebih besar. Apalagi negara ini memiliki cadangan yang besar untuk pemenuhan "local content" pembuatan produk soft drink, jus dan teh, " jelas David.
Selama puluhan tahun berinvestasi di Indonesia, Coca Cola Amatil telah mengoperasikan 9 pabrik manufaktur yang tersebar di Sumatra, Jawa dan Bali. Produk minuman yang sudah dijual sejauh ini tidak hanya minuman karbonasi, melainkan juga produk sari buah, air mineral dan isotonik.
Sementara itu, Group President of Coca Cola Asia Pasifik Atul Singh memastikan investasi yang ditumbuhkan Coca Cola di Indonesia akan menjadi program pembangunan berkelanjutan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Sebab di kawasan Asia Pasifik, setelah India, Indonesia merupakan prioritas utama dalam pasar penjualan produk Coca Cola. Tidak mau disebut semata-mata mengeruk keuntungan, Atul memastikan segala program yang dikerjakan CCA melibatkan pemerintah dan kehidupan masyarakat sekitar.
Disinggung soal rencana ekspor terhadap produk yang dihasilkan di Indonesia, pria berkumis ini sesumbar cenderung berfokus pada pasar lokal. Pasalnya hampir di setiap negara memiliki pabrikan yang memproduksi produk The Coca Cola Company.
"Belum terlalu ke arah sana ya (ekspor), kami lebih tingkatkan produksi untuk dalam negeri. Cuman ada produk yang sudah diekspor ke negara tetangga seperti Papua Nugini, yaitu produk minute maid pulpy," cetus Atul.
Dalam kesempatan itu Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengungkapkan apresiasi pemerintah terhadap investor asing yang terus berkomitmen berinvestasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tak lupa dia mendeklarasikan kemudahan perizinan melalui layanan terpadu satu pintu. Sehingga The Coca Cola Company bisa menyampaikan kabar baik tersebut ke investor lain di Amerika Serikat agar tidak lagi ragu berinvestasi di Indonesia.
"Pertambahan nilai investasi dari Coca Cola menunjukkan kepercayaan terhadap Indonesia. Bahwa potensi kita besar dan sudah diakui di dunia," ucap Sofyan.
Dari pemantauan di lokasi, tampak dominasi mesin memenuhi area pabrik dengan bantuan tenaga manusia yang tidak terlalu banyak.
"Di sini tenaga operatornya hanya sekitar 80 orang. Selebihnya mesin yang bekerja agar target produksi tercapai," ucap Enginering Manager PT Coca Cola Amatil Indonesia Sudjono.
Dia menerangkan pertambahan dua lini produksi yang baru menghadirkan kekuatan mesin yang bisa memproduksi rata-rata 30.000 botol per jam, lebih besar dari dua lini terdahulu yang rata-rata produksinya 21.000 botol per jam.
Dengan adanya mesin baru, pihaknya optimistis bisa menghemat energi lebih besar. Sebagai contoh untuk sistem sterilisasi, kini penggunaan suhu bisa di level 18 derajat celcius. Sedangkan sebelumnya hanya bergantung pada pemakaian cold temperature system dengan suhu 4-8 derajat celcius. "Sekarang cukup dengan suhu 18 derajat sudah bisa lakukan proses sterilisasi. Jadi bisa pakai hot temperature," tandasnya. (OL-3)