Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI tukar rupiah diperkirakan cenderung melemah pada pembukaan perdagangan seusai berakhirnya musim libur Lebaran.
Pelemahan rupiah itu merespons kondisi perekonomian global yang terjadi dalam sepekan terakhir, yakni Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan dan semakin memanasnya perang dagang antara AS dan Tiongkok.
Rupiah dalam perdagangan sebelum libur Lebaran Jumat (8/6) ditutup pada level 13.900 per 1 dolar AS. Sementara itu, the Fed menaikkan Fed Fund rates 25 basis poin ke level 2%, Kamis (14/6) lalu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam keterangan persnya mengatakan bahwa BI senantiasa berkomitmen dan fokus pada kebijakan jangka pendek dalam memperkuat stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.
Untuk itu BI siap menempuh kebijakan lanjutan yang pre-emptive, front loading, dan ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan the Fed dan ECB pada RDG 27-28 Juni 2018 mendatang.
Dalam pernyataannya, Gubernur Perry menyampaikan bahwa kebijakan lanjutan itu dapat berupa kenaikan suku bunga yang disertai dengan relaksasi kebijakan LTV untuk mendorong sektor perumahan.
“Selain itu, kebijakan intervensi ganda, likuiditas longgar, dan komunikasi yang intensif tetap dilanjutkan. BI, pemerintah, dan OJK juga akan terus mempererat koordinasi untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan,” ujar Perry.
BI yakin ekonomi Indonesia, khususnya pasar aset keuangan, akan tetap kuat dan menarik bagi investor, termasuk investor asing.
“Dengan investasi yang terjaga, stabilitas ekonomi juga diharapkan tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat,” tutup Perry.
Tidak harus naik
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang negara maju dan negara berkembang terjadi pascakeputusan the Fed menaikkan suku bunga acuan 25 bps.
Namun demikian, nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung stabil mengingat BI sudah melakukan kebijakan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada Mei lalu yang diharapkan dapat mendukung stabilitas rupiah.
“Terkait dengan suku bunga kebijakan, BI diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada RDG bulan ini,” ujar Josua.
BI, lanjut Josus, diperkirakan akan mengoptimalkan policy mix, yakni pelonggaran kebijakan makroprudensial yang diharapkan dapat mendukung momentum pertumbuhan di tengah stance kebijakan moneter yang cenderung tight bias.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, Suprajarto, mengatakan bahwa BI tidak mesti menaikkan suku bunga acuan dalam RDG pekan depan, mengingat pada Mei lalu BI sudah menaikkan suku bunga acuan juga 2 kali atau sebesar 50 bps.
“Kenaikan suku bunga the Fed kemarin tidak mesti direspons juga dengan kenaikan kembali suku bunga acuan 7-day repo rate pada akhir Juni ini,” ujar Suprajarto.
BRI, lanjutnya, berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga kredit bagi UMKM. (E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved