Indonesia Petik Peluang dari Perang Dagang

(Nyu/E-1)
19/6/2018 01:45
Indonesia  Petik Peluang dari Perang Dagang
(Ilustrasi--tiyok)

INDONESIA bisa mengambil keuntungan dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang makin memanas. Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI) Toto Pranoto mengatakan, Indonesia  bisa mengambil peran positif dengan menjadi mediator perdagangan bagi AS dan Tiongkok.

“Kalau ada dua negara besar mengalami perang dagang, kan, berarti mereka cari jalan alternatif dari negara yang bisa dijadikan transit untuk bisa menjual barang ke negara tujuan. AS cari partner negara mana untuk memasukkan barang ke Tiongkok, begitu juga sebaliknya. Tujuannya supaya pengenaan pajak bisa dihindari,” ujar Toto saat dihubungi Media Indonesia, Senin (18/6)

Diketahui, AS mengumumkan akan memberlakukan tarif tambahan 25% pada produk Tiongkok senilai US$34 miliar pada Jumat (6/7). Aksi itu dibalas Tiongkok dengan rencana pengenaan tarif dan bea cukai juga sebesar 25% untuk produk-produk AS.

Meski jadi mediator perdagangan, Toto mengingatkan Indonesia tidak hanya menjadi tempat transit bagi produk kedua negara tanpa diolah terlebih dahulu. Sebabnya, jika demikian, Indonesia tidak akan mendapat manfaat yang besar.

“Produk yang bisa memberi nilai tambah bisa diproses sehingga ketika di-re-ekspor bisa punya nilai yang lebih tinggi dari produk aslinya, jangan hanya jadi broker saja, itu mentalitas pedagang,” ungkapnya

Secara terpisah, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan, sisi positif adanya perang dagang ialah kedua negara mulai melirik Indonesia sebagai partner baru.

“Yang jelas dari pihak Tiongkok sudah mulai mengalihkan (perdagangan ke Indonesia). Biasanya beli kedelai atau soya dari Amerika. Kelihatannya akan dialihkan dan membeli kelapa sawit kita,” jelasnya.

Meski beberapa hal menguntungkan, secara umum ia melihat perang dagang itu lebih banyak merugikan. Sebabnya, rantai perdagangan dunia akan terganggu.

“Pada akhirnya AS akan menghadapi kondisi yang tidak efisien,” pungkasnya. (Nyu/E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya