Ribuan Sekolah belum Dapat Listrik

Fathia Nurul Haq
22/3/2015 00:00
Ribuan Sekolah belum Dapat Listrik
(ANTARA/ YAMIN GELI)
Sebanyak 17.520 sekolah di seluruh Indonesia belum teraliri listrik. Kondisi ini dipicu oleh minimnya pembangunan infrastruktur pembangkit listrik baru yang tecermin dari rendahnya rasio elektrifikasi.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mayoritas sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama yang belum mendapatkan listrik itu berada di Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat. Adapun rasio elektrifikasi daerah di timur Indonesia, sesuai data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu masih di bawah 50%. Papua merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah, yakni 36%.

"Sekolah-sekolah (yang belum teraliri listrik) berada di daerah remote (terpencil) yang masih kekurangan infrastruktur kelistrikan," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Jakarta, (20/3).

Ia khawatir kondisi ini dapat menghambat kegiatan belajar mengajar. Karena itu, penyediaan listrik dinilai mendesak pada wilayah pelosok tersebut.

"Kita berusaha mencari cara agar sekolah remote teraliri listrik. Bagi daerah-daerah yang urban, hadirnya teknologi dirasa kemewahan, tapi bagi saudara-saudara kita di tempat tertinggal, teknologi keharusan untuk mengejar saudara lainnya yang lebih maju," ujar Anies.

Saat menanggapi hal tersebut, Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan akan segera membentuk satuan tugas atau task force yang mulai bekerja minggu depan untuk memverifikasi data milik Kemendikbud. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penyediaan listrik di 17.520 sekolah itu.

"Kami akan mengunjungi sekolah-sekolah itu mulai minggu depan. Dari hasil verifikasi, kami akan lakukan langkah cepat sesuai kondisi yang ada agar sekolah-sekolah tersebut segera terlistriki," ujarnya melalui telepon kemarin.

Sudirman menyebut, keanggotaan satuan tugas berasal dari satu eselon dua dari Kemendikbud dan dua eselon dua dari Kementerian ESDM.

Penyediaan listrik untuk sekolah, kata dia, akan bersumber dari energi baru dan terbarukan. Kendati begitu, ia tidak menutup kemungkinan berasal dari pembangkit listrik eksisting.

"Kami juga akan mengajak perusahaan menyediakan listrik," katanya.

Menurut dia, penyediaan listrik bagi sekolah-sekolah tersebut sejalan dengan rencana elektrifikasi nasional sebesar 99% pada 2025. Rasio elektrifikasi saat ini baru mencapai 84%.

Peningkatan rasio elektrifitas itu dilakukan melalui pembangunan pembangkit listrik berkapasitas total 35 ribu megawatt (Mw).

"Penyediaan listrik untuk sekolah ini lebih cepat," katanya.

Sambungan listrik mudah
Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir mengaku penyediaan listrik untuk sekolah-sekolah bisa segera dilakukan melalui pemasangan sambungan baru.

Akan tetapi, perseroan harus mendapat data yang jelas mengenai letak wilayah sekolah tersebut.

"Saya harus lihat dulu datanya, di wilayah mana? Kalau memang sekolah itu berada di wilayah yang sudah ada jaringan listriknya tentu mudah saja dan cepat," ujar Sofyan. Ia mengaku siap membangun jaringan baru untuk penyedian listrik di sana.

Sofyan mengaku telah dipanggil oleh Menteri ESDM untuk membahas permasalahan ini pada awal pekan depan. Dalam pertemuan itu, PLN akan melihat perincian data lokasi sekolah-sekolah yang belum mendapatkan listrik. Setelah itu, PLN memperjelas rencana penyediaan listrik itu. (Mus/Ant/E-5)

fathia @mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya