PTPN Diminta Kembangkan Manufaktur Perkebunan

Erandhi Hutomo Saputra
09/6/2018 04:10
PTPN Diminta Kembangkan Manufaktur Perkebunan
(ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

MENTERI Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro meminta holding perkebunan Nusantara PTPN III (persero) untuk fokus mengembangkan penghiliran dari setiap komoditas yang dihasilkan. “Bappenas ingin melihat PTPN III tidak hanya perusahaan perkebunan, tapi juga bisa menjadi perusahaan di manufaktur berbasis perkebunan,” ujar Bambang seusai penandatanganan MoU antara PINA Center Bappenas dan PTPN III tentang Kerja sama Fasilitasi Pembiayaan Investasi dengan Skema Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) di Gedung Bappenas Jakarta, Jumat (8/6).

Ia meminta holding perkebun­an bisa membangun pabrik dari komoditas turunan, seperti sawit, karet, dan tebu. Menurutnya, penghiliran bukan opsi, melainkan keharusan bagi perusahaan, khususnya BUMN, untuk bertahan dalam era perdagangan global. Terlebih produk penghiliran bisa diekspor sehingga menambah cadangan devisa negara. “Suplai US$ dalam perekonomian kita datangnya hanya dua, ekspor dan investasi. Ekspor barang belakangan sempat mengalami tantangan, perkembangan ekspor kita negatif, di sini kami apresiasi PTPN III untuk lebih go downstreaming,” imbuhnya.

Pernyataan Bambang sejalan dengan yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR, Kamis (7/6). Menurut Darmin, salah satu kunci memacu pertumbuhan ekonomi ialah dengan mendorong industri manufaktur yang banyak menyerap tenaga kerja.

Alternatif biaya
Direktur Utama PTPN III Donny Pulungan mengaku butuh Rp16 triliun untuk mengembangkan penghiliran dengan membangun berbagai pabrik dari komoditas turunan. Untuk itu, mereka mencoba alternatif pendanaan dengan skema PINA (pembiayaan investasi non-anggaran pemerintah).

“PTPN III akan investasi dalam 1-2 tahun ini sekitar Rp16 triliun untuk membangun pabrik minyak goreng, pabrik ban motor, pabrik bioetanol di pabrik gula kita. Itu bagian rencana jangka pendek kita,” ujar Donny.

Untuk rencana pembangunan pabrik ban, lanjut Donny, saat ini PTPN III sudah didekati dua pemain besar yang berminat untuk bergabung. Untuk pabrik minyak, PTPN III berencana membangun dua pabrik, yang salah satunya berada di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Sumatra Utara. Selain jangka pendek, PTPN III berniat berinvestasi dalam jangka panjang selama 10 tahun ke depan yang membutuhkan dana Rp100 triliun. “Kita downstreaming semua komoditas. Jadi, kita tidak hanya main di hulu, tapi di hilir,” ucapnya.

Investasi jangka panjang itu direncanakan untuk membangun pabrik yang akan memproduksi bioetanol, CO2, fertilizer, dan gas. Pencukupan dana yang besar itu, lanjut Donny, membutuhkan investasi melalui alternatif pendanaan sehingga ia menjalin kerja sama dengan PINA Center. CEO PINA Center Eko Putro Adijayanto mengaku tengah mengkaji beberapa skema pendanaan sesuai dengan kebutuhan PTPN III, di antaranya reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) atau surat berharga perpetual (SBP). Bambang menyebut untuk memfasilitasi kebutuhan dana melalui pendanaan alternatif, investor untuk PTPN III bisa datang dari dalam dan luar negeri. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya