Dunia Usaha Butuh Insentif Fiskal Menuju Industri 4.0

Erandhi Hutomo Saputra
07/6/2018 22:00
Dunia Usaha Butuh Insentif Fiskal Menuju Industri 4.0
(Ist)

KETUA Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani sepakat jika kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia masih belum siap dalam menghadapi Industri 4.0. Pasalnya, dari jumlah angkatan kerja sebanyak 133 juta, sebanyak 49% berpendidikan SD.

"Hanya 12-13% itu S1, dengan struktur ini akan sangat berat. Tantangan utama SDM," ujar Rosan dalam acara buka puasa bersama General Electric di Jakarta, Kamis (7/6).

Selain itu, produktivitas tenaga kerja Indonesia juga masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara lain. Bila dibandingkan dengan Tiongkok, produktivitas pekerja Indonesia lebih rendah 49%, sedangkan bila dibandingkan dengan India sebesar 24%.

"Produktivitas kita rendah karena background pendidikan yang masih rendah," ucapnya.

Untuk mempersiapkan SDM agar kompeten dalam menghadapi industri 4.0, Rosan menilai industri perlu investasi untuk mengembangkan vokasi dan litbang. Terlebih, Indonesia akan mengalami bonus demografi hingga 2030.

Untuk itu, lanjut Rosan, diperlukan insentif fiskal bagi dunia usaha untuk mengembangkan vokasi dan litbang. Ia mengapresiasi pemerintah yang berencana mengeluarkan kebijakan super deductable tax dalam mendukung pengembangan SDM dan litbang.

"Untuk masuk ke situ costly, sehingga kalau ada kebijakan fiskal tentu sangat membantu, maka kita bersama Kemenperin dorong deductable tax untuk litbang dan vokasi," jelasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara, mengatakan, pemerintah terus mendukung industri untuk siap menghadapi Industri 4.0. Salah satu upaya yang dilakukan Kemenperin yakni mendorong insentif fiskal berupa super deductable tax.

"Usulan itu untuk memperbaiki ekosistem inovasi. Kami juga memperbaiki iklim investasi melalui tax holiday," ucapnya.

Ia meminta ketakutan akan hilangnya pekerjaan akibat Industri 4.0 tidak berlebihan. Sebab diprediksi, revolusi industri keempat akan menciptakan 10 juta lapangan kerja sampai 2030. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya