Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TANTANGAN yang dihadapi Bank Indonesia antara lain penyesuaian likuiditas global terutama dolar AS yang mengalami penyesuaian dan mengakibatkan pembalikan dana kembali ke AS, volatilitas saham, nilai tukar dan harga komoditi yang bergerak tajam, yang berakibat aliran modal ke Indonesia semakin terbatas.
Kebijakan Presiden Trump yang memotong pajak dan membuat risiko utang negara tersebut meningkat, turut mengerek imbal hasil US treasury dan nilai tukar dolar AS. Maka tidak heran bila pasar berekspektasi suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate akan naik 2-3x tahun ini.
Hal ini turut diikuti sejumlah bank central negara maju dan arah ekonomi menunjukkan pengetatan global dimana semua negra berlomba-lomba mendapatkan dana. Tren menguatnya dolar AS diprediki akan terus naik samapi akhir tahun.
Dengan kondisi ini, disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, yang penting bagi Indonesia baik bagi otoritas moneter, fiskal, dan sektor riil adalah menjaga stabilitas. Maka tidak heran bila BI dan pemerintah mulai mengerem pertumbuhan dan mengedepankan stabilitas sementara waktu.
"Kini stability over growth," ujar Dody di gedung bursa efek Indonesia, Selasa (5/6).
Hal ini ditunjukkan dengan menjaga inflasi tetap rendah . Maka BI menggunakan empat langkah untuk menjaga stabilitas. Pertama, respon kenaikan suku bunga, diakui Bank Indonesia, menjadi pilihan yang paling tidak mereka inginkan , namun harus dilakukan. Sebab mereka melihat ekspektasi risiko ke depan semakin tinggi.
Maka kenaikan suku bunga 50 bps dalam dua minggu dilakukan untuk menjaga depresiasi nilai tukar tidak semakin dalam dan inflasi agar tetap rendah.
Per 4 Juni, secara year to date, depresiasi nilai tukar rupiah terpantau sebesar 2,9% , membaik dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,2%. Penyebabnya karena apresiasi Rupiah terjadi selama 10 hari terakhir. Namun demikian, diakui Dody, level rupiah yang sekarang memang masih terlalu murah.
Kedua, stabilitas intervensi dengan BI masuk ke pasar valas dan obligasi, untuk menstabilkan nilai tukar. Cadangan devisa dipakai sebagai intervensi stabilisasi nilai tukar.
"Kami menjaga nilai tukar cukup banyak. Kalau kami tidak masuk mungkin rupiah sudah di level 15 ribu. Seharusnya pelemahan rupiah tidak setajam ini. saat ini terlampai murah . Tapi ini risiko yang harus kami jaga, pro growth dan pro stability,"
Ketiga, BI menjaga agar likuiditas rupiah jangan sampai kering di pasar , dan valas dijaga pada supply dan deman. Meskipun artinya harus berhati-hati bila akan menjaga likuiditas valas karena kemampuan cadangan devisa punya keterbatasan. "Jangan perangi pasar bila akan melakukan intervensi,"
Terakhir adalah edukasi karena kehilangan membentuk ekspektasi. Tidak dia pungkiri, masyarkat memiliki trauma tahun 1997-1998 dan 2012-2013 saat terjadi depresiasi rupiah yang dalam. Akibatnya keyakinan masyarakat relatif rendah terhadap ekonomi dan nilai tukar.
Kini setalah kebijakan BI kembali menaikkan suku bunga, dan mereka juga siap memanfaatkan ruang bila harus menaikkan kembali saat uncertainty mengganggu, perlahan nilai tukar menguat dan turut mendorong indeks pasar saham.
"Harapannya bisa permanen sampai akhir tahun," tukas Dody. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved