Pemerintah Optimis Pertumbuhan 5,4%-5,8% Tercapai

Tesa Oktiana Surbakti
05/6/2018 13:23
Pemerintah Optimis Pertumbuhan 5,4%-5,8% Tercapai
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

PEMERINTAH memandang target pertumbuhan ekonomi 5,4-5,8% pada 2018 masih realistis untuk dicapai. Keniscayaan tersebut mengacu pada sejumlah faktor, termasuk geliat investasi yang prospektif.

"Kami menganggap target pertumbuhan ekonomi 5,4-5,8% di 2019 masih menunjukkan range yang realistis. Kami tetap optimistis bahwa target itu bukan tidak dapat dijangkau," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pembahasan kerangka ekonomi makro 2019 dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (5/6).

Pemerintah, lanjut Ani, sapaan akrabnya, turut mempertimbangkan evaluasi kondisi pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2018. Sehingga, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomo sampai akhir 2018 mencapai 5,18-5,4%. Optimisme tersebut sejalan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,4% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

"Range 5,18-5,4% ini dipengaruhi faktor demand yang bergerak. Kita melihat konsumsi rumah tangga (RT) triwulan I 2018 sebesar 4,95%. Di sini konsumsi RT perlu diberi perhatian, terutama kelompok menengah atas. Karena kelompok menengah bawah mendapatkan program bantuan dari pemerintah," tutur Bendahara Negara.

Menurutnya apabila konsumsi RT terus berada di bawah level 5%, maka pertumbuhan ekonomi 2018 berpotensi tumbuh lebih rendah di kisaran 5,18%. Hal ini tidak lepas dari besarnya kontribusi konsumsi RT dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB). Di satu sisi, pemerintah melihat pergerakan investasi melalui pembentukan modal tetap bruto (PMTB) akan tumbuh di atas 7%. Pada triwulan I 2018, pertumbuhan PMTB tercatat 7,95%. Kinerja investasi yang positif dapat mendorong capaian pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2-5,4%.

"Pertumbuhan investasi seluruh tahun ini apabila bisa di atas 7%, maka bisa didapatkan pertumbuhan ekonomi 5,2-5,4%. Kami melihat ada peningkatan investasi dari sektor swasta yang meliliki keterkaitan dengan sektor primer," imbuhnya.

Di satu sisi, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyoroti tantangan dari kinerja ekspor. Dia menekankan perlunya perluasan pangsa ekspor nasional, berikut meningkatkan diversifikasi produk ekspor. Sepanjang triwulan I 2019, pertumbuhan ekspor mencapai 6,17%. Namun, kinerja impor perlu diwaspadai. Pasalnya, pertumbuhan impor yang terlalu tinggi memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan impor pada triwulan I 2018 tercatat 12,75%. Tingginya impor dipengaruhi komponen bahan baku atau penolong yang menggerakkan roda perindustrian. Kendati demikian, terdapat lonjakan impor konsumsi yang merupakan faktor musiman seperti bulan Ramadan.

"Sebaiknya bahan baku yang diimpor bisa dicari substitusinya. Memang tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek karena berkaitan dengan kesiapan industri. Apabila impor bahan baku bisa dikendalikan, tentu pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik," pungkas Ani.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya