Penurunan HET Disambut Baik

Andhika Prasetyo
05/6/2018 06:45
Penurunan HET Disambut Baik
(ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

PEMERINTAH berencana menurunkan harga eceran tertinggi (HET) untuk jenis beras medium dari Rp9.450 per kilogram (kg) menjadi Rp8.950 per kg. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan, kebijakan tersebut diberlakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Pemerintah pun telah melakukan kajian di sejumlah pasar di 34 provinsi di Indonesia sebelum akhirnya memutuskan mengubah regulasi harga eceran komoditas tersebut.

"Pertimbangannya supaya daya beli masyarakat lebih terjangkau. Saat Januari-Maret kemarin kami analisis perkembangannya. Sudah lengkap datanya setelah kami kunjungi 34 provinsi. Semua rata-rata menjual di bawah HET," jelas Enggar, kemarin.

Ia mengatakan keputusan itu akan dituangkan dalam peraturan terbaru menteri perdagangan yang akan ditandatangani pekan ini.

Dalam menanggapi kebijakan itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengaku setuju. Dia mengungkapkan, pihaknya sudah menyosialisasikannya sejak pekan lalu dan toko-toko ritel bahkan sudah mulai menjalankan regulasi tersebut. "Pengusaha tidak ada keluhan karena dari sumbernya, suplainya, harganya diturunkan. Jadi, kami peritel juga ikut menurunkan (harga)," ujar Roy di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, kemarin.

Dengan regulasi anyar tersebut, HET untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi ditetapkan menjadi Rp8.950 per kg. Untuk wilayah Sumatra (kecuali Lampung dan Sumatera Selatan), Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan, harga ditetapkan menjadi Rp9.450 per kg. Sementara itu, di Maluku dan Papua, HET ditetapkan Rp9.750 per kg.

Namun, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir menilai kebijakan penurunan harga eceran tertinggi beras untuk level medium dari Rp9.450 per kilogram (kg) menjadi Rp8.950 per kg di beberapa wilayah Indonesia sangat merugikan petani sebagai produsen. Sebabnya, dengan pengurangan harga di tingkat konsumen, harga di tingkat petani pun akan semakin ditekan.

Stok aman
Mengenai ketersediaan maupun harga pangan menghadapi Lebaran, Kementerian Perdagangan maupun Kementerian Pertanian kompak menyatakan dalam kondisi aman. Mendag memastikan saat ini stok berbagai bahan pangan mulai beras hingga daging tersedia dan dapat dibeli dengan harga terjangkau

"Hukum ekonomi berlaku. Harga tidak naik karena suplai ada. Kami memastikan itu. Saya dan seluruh eselon satu melihat langsung, memantau langsung di 34 provinsi. Stok akan aman sampai tiga bulan ke depan," tegasnya.

Ia juga mengatakan akan terus mengontrol harga beras di pasar, baik tradisional maupun ritel, sehingga harga yang ditawarkan kepada konsumen tidak melebihi harga eceran tertinggi sebagaimana telah ditetapkan pemerintah.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjabarkan stok beras selama periode Ramadan dan Lebaran jauh melebihi angka kebutuhan. "Kebutuhan beras pada Mei hingga Juni tercatat 5,33 juta ton, sedangkan pasokan pada periode itu 9,10 juta ton," terangnya.

Kebutuhan jagung pada periode yang sama juga diklaim surplus dengan perbandingan antara kebutuhan dan pasokan sebesar 3,06 juta dan 4,51 juta ton.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya