Tekanan Global Membuat Kebijakan Moneter Harus Pro Stabilitas

Fetry Wuryasti
31/5/2018 16:22
Tekanan Global Membuat Kebijakan Moneter Harus Pro Stabilitas
(ANTARA)

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan dengan berbagai dinamika global yang terjadi, kebijakan moneter kini mengarah kepada prostabilitas.

Sejak awal Februari, telah terjadi perubahan perekonomian global yang cukup mendasar. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan perubahan tersebut.

Pertama kemungkinan suku bunga acuan AS (The Fed) naik lebih tinggi dari perkiraan, menyusul dengan semakin baik perekonomian AS yang diikuti inflasi mereka yang mendekati target. Maka pelaku pasar sudah memprediksikan  kenaikan suku bunga AS sebanyak 4x, meskipun BI masih melihat kenaikan Fed Fund Rate di 2018 hanya tiga kali.

Dari kebijakan fiskal, pemerintah AS ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga mengurangi pajak. Maka di sana terjadi defisit fiskal,yang diprediksi mencapai 4-5% di 2019. Risiko pasar keuangan global meningkat akibat perang dagang AS-Tiongkok maupun kondisi di Eropa dan geopolitik lain.

Kenaikan Fed Fund Rate, defisit fiskal, dan meningkatnya risiko mendorong kenaikan suku bunga di AS dan risiko global. Bagaimana suku bunga obligasi AS meningkat sampai 3% dan diprediksi pasar sampai 3,35%.

"Dengan gambaran tekanan global ini, arah kebijakan bank Indonesia ke depan adlaah menjaga stabilitas dan untuk kebijakan moneter tidak ada pilihan lain , diharapkan untuk pro stabilitas. Tapi bukan tidak berarti tidak pro growth," ujar Perry dalam paparannya di Badan Anggaran DPR RI, Jakarta , Kamis (31/5).

Salah satu yang sudah dilakukan BI adalah kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7Day Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75% , dalam 13 hari setelah kenaikannya ke level 4,5%. Tujuannya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Kondisi perekononian Indonesia  , BI lihat cukup kuat akan tekanan global. Di tahun 2018 diperkirakan pertumbuhan ekonomi 5,06 akan terus meningkat PE 5,05 terus meningkat.

"Pada tahun 2018 kami perkirakan pertumbuhan ekonomi bergerak di kisaran 5,1 -5,5 % dan di 2019 di angka 5,2-5,6%. Kemudian defisit transaksi berjalan tidak lebih dari 2,5%,"

Realisasi inflasi sampai Q1 2018 tercatat 3,41 ,maka hingga akhir 2018 inflasi masih tetap dioerkirakan di kisaran 2,5- 4,5%. Nilai tukar pun pada sampai akhir 2018 diproyeksikan di kisaran 13.800-14.100 dan di 2019 diproyeksikan bisa di kisaran 13.600-14.100. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya