"New Normal" Perekonomian Potensial Ganggu Stabilitas Domestik

Fetry Wuryasti
31/5/2018 15:30
(ANTARA)

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan perubahan kondisi ekonomi global menuju titik keseimbangan baru (a new normal) dapat menciptakan gejolak yang berpotensi mengganggu stabilitas domestik.

"Perubahan kondisi global menuju 'a new normal' menciptakan gejolak dan tekanan yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi domestik," kata Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR di Jakarta, Kamis.

Pulihnya perekonomian AS menyebabkan kecenderungan peningkatan laju inflasi serta penurunan tingkat pengangguran di AS. Oleh karena itu Bank Sentral AS (Federal Reserve) melanjutkan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya serta kecenderungan pengetatan likuiditas.

Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve diperkirakan akan terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan, dari semula kenaikan sebanyak 3 kali menjadi 4 kali.

"Ini berarti terjadi kenaikan suku bunga dolar AS secara lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Selain itu, Pemerintah AS juga menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif," ujar Menkeu saat memberikan tanggapan dan jawaban terhadap berbagai pertanyaan dan pandangan yang telah disampaikan oleh para Fraksi,di ruang Paripurna DPR-MPR RI, Jakarta, Kamis (31/5).

Kebijakan pemotongan pajak dan penambahan belanja, mendorong kenaikan defisit fiskal AS secara cukup tajam. Potensi tambahan penerbitan US Treasury Bill untuk menutup defisit anggaran yang diperkirakan mencapai 4 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS.

"Kebijakan ini juga telah menyebabkan kenaikan imbal hasil surat berharga negara tersebut,"

Selain perkembangan ekonomi AS, terdapat beberapa sumber risiko ketidakpastian global. Di antaranya adalah potensi perang dagang AS dan Tiongkok, perkembangan perjanjian nuklir ;“ dengan Iran, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perkembangan politik negara-negara penghasil minyak seperti Venezuela, dan perkembangan di Semenanjung Korea.

Perkembangan perkembangan ini memicu perubahan yang cepat pada harga minyak dan komoditas global, serta gejolak di pasar keuangan global dalam bentuk arus modal kembali ke AS, pengetatan likuiditas global, dan penguatan dolar AS. Sebagai bagian dari perekonomian global, sudah tentu perekonomian Indonesia tidak luput dari dinamika yang sedang terjadi.

"Kondisi tersebut mempengaruhi prospek ekonomi dan perdagangan global. Kami memperhatikan dengan seksama perkembangan sektor keuangan yang memburuk di Argentina, Turki, dan beberapa hari terakhir kita mulai mendengar potensi kenaikan signifikan imbal hasil surat berharga Italia. Proses pergerakan menuju keseimbangan baru tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan," tukas Sri Mulyani. (Ant/OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya