Pemulihan Pasar Sudah Mulai Terlihat

Fetry Wuryasti
27/5/2018 18:37
Pemulihan Pasar Sudah Mulai Terlihat
(ANTARA)

GEJOLAK ekonomi yang melanda sebagian besar negara pasar berkembang baik menyasar nilai tukar , obligasi dan pasar saham, tak lain akibat dari pemulihan ekonomi di AS. Namun Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Silvano Rumantir melihat pasar mulai pulih bertahap.

"Dua hari ini di pasar ekuitas sudah terlihat aksi foreign net buy walaupun secara year to date masih net sell. Tetapi secara umum dalam dua hari terakhir pemuliha pasar sudah mulai terlihat," ujar Silvano , saat paparan outlook di Jakarta, Jumat (27/5).

Alasannya antara lain , pembatalan pertemuan tingkat tinggi antara AS dan Korea Utara, setelah beberapa permintaan AS diberikan Korea Utara. Ini berakibat pasa saham di AS menjadi landai , sehingga negara berkembang diuntungkan.

Selain itu , keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI 7Day Repo Rate, diapresiasi investor dan menunjukkan kesiapan bank sentral untuk melanjutkan sensitivitasnya terhadap pasar.

Kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin, meski dinilai tidak cukup mendongkrak namun menggambarkan sinyal yang diberikan BI yang pro market.

Selain itu Bank Indonesia juga sudah memberi pernyataan terbuka kemungkinan untuk adanya penyesuaian kembali suku bunga kebijakan BI bila diperlukan.

"Sinyal sensitivitas dan fleksibilitas terhadap market itu sudah dikonfirmasi,"

Kondisi pasar pada semester dua dimulai dari berlanjutnya volatilitas karena kebijakan President AS, Donald Trump. Dari domestik , akan ada Pilkada di bulan Juni. Harapannya di semester dua, volatilitas dari antisipasi terhadap Pilkada akan mereda di semester dua.

Pada pertemuan The Fed bulan Juni, sudah diekspektasi pasar bahwa AS akan menaikan Fed Fund Rate. Kemudian disusul dengan liburan musim panas yang biasanya kegiatan dari investor di AS akan lebih mereda.

"Diharapkan dengan berbagai faktor ini, market sudah bisa lebih settle di semester ke dua,"

Mandiri Sekuritas menyarankan pada nasabah untuk tidak menghentikan persiapan untuk IPO baik untuk domestic bonds dan global bonds, sebab semua prosesnya membutuhkan waktu beberapa bulan, serta memperhatikan celah waktu untuk masuk ke pasar.

"Untuk issuer perdana global bond, mungkin baiknya setelah Agustus masuk pasar, karena investor baru kembali. Sedangkan bila IPO, ada 180 hari validitas dari financial statement. Sehingga bisa masuk di September menggunakan buku keuangan Maret, selain sentimen pilkada sudah reda, kenaikan suku bunga acuan The Fed setelah Juni sudah lebih jelas. Sedangkan untuk domestic bonds, preferensi untuk tenor dan yield yang harus lebih diperhatikan," tukas Silvano. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya