PERCAYA atau tidak, ekonomi dunia ternyata dipengaruhi oleh satu kata. Ketika Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, mengeluarkan pernyataan 'sabar' (patient) untuk menunggu penetapan suku bunga acuan The Fed, pasar dunia pun merespons negatif.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun melemah tajam, juga mata uang negara-negara lain.
Ketika Chairman The Fed Janet Yellen menyatakan tidak akan menggunakan kata 'sabar' pada pernyataannya, serta ditandai dengan keputusan tetap mempertahankan suku bunga acuan, seketika itu pula pasar bereaksi positif.
Termasuk nilai tukar rupiah dan perdagangan saham di Indonesia.
"Sedikit kata yang dilontarkan The Fed itu berjuta makna. Di tengah ekonomi dunia yang butuh kepastian, kata-kata itu menjadi sangat sensitif. The Fed memahami perannya dalam memegang kekuasaan itu," kata Lawrence Solan, profesor hukum di Brooklyn Law School yang memegang gelar doktor dalam linguistik, seperti dikutip Boston Globe.
Dalam merespons keputusan The Fed, kemarin (Rabu malam waktu AS), berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah menguat menjadi 13.008 jika dibandingkan dengan Rabu (18/3) di posisi 13.164 per dolar AS.
Adapun indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di 5.453,85, atau naik 40,7 poin (0,75%).
"Keputusan The Fed itu cukup bisa menyejukkan pasar dan itu bisa terlihat pada pergerakan rupiah pada hari ini (kemarin). Tentu kita akan jaga terus nilai rupiah dan mengantisipasi pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) selanjutnya," kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Jakarta, kemarin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil pun bersyukur atas putusan The Fed tersebut.
Ia pun meyakinkan anjloknya rupiah bersifat temporer.
"Makanya saya bilang itu persoalan temporer, tidak ada masalah dengan perekonomian kita," ujarnya.
Momentum Presiden Direktur PT Schroders Michael Tjoajadi berharap pemerintah memanfaatkan momentum penguatan rupiah dengan memublikasikan kebijakan, seperti penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini membebani anggaran negara.
"Buat secara atraktif agar foreign direct investment masuk," katanya di Jakarta, kemarin.
Masuknya dana asing akan menambah ketersediaan dolar AS.
Lalu investor membeli rupiah untuk kegiatan berinvestasi.
Michael tidak khawatir pelemahan rupiah terhadap dolar AS karena investor akan tetap menempatkan dananya di Tanah Air.
"Mereka mencari future growth," ujarnya.
Ketua Umum DPP Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Eka Sari Lorena menambahkan penguatan rupiah terhadap dolar AS hanya sementara.
Kondisi itu belum akan membantu pelaku usaha angkutan umum.
Ia meminta pemerintah memberikan sejumlah insentif untuk membantu pelaku usaha angkutan umum. (Tes/Fat/X-10)