Kolak dan Ekonomi Umat

Adiyanto Wartawan Media Indonesia
23/5/2018 02:00
Kolak dan Ekonomi Umat
(ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

SALAH satu pemandangan yang hanya dapat kita jumpai selama Ramadan ialah penjual takjil. Para pedagang dadakan itu biasanya mulai menjajakan dagangan mereka menjelang senja hari. Namanya dadakan, etalase untuk menyajikannya pun biasanya seadanya, sebuah meja kecil yang kadang dilapisi plastik transparan sebagai penutup untuk menghindari debu atau lalat.

Coba Anda perhatikan jika pulang kantor, ada berapa banyak pedagang takjil yang Anda temui sepanjang perjalanan ke rumah. Mungkin puluhan atau bahkan ratusan. Lalu, coba Anda kemudian bayangkan berapa banyak jumlah mereka di seluruh Jakarta. Belum lagi di daerah-daerah penyangga seperti Depok, Tangerang, dan Bekasi atau bahkan mungkin seluruh Indonesia. Lantas hitung berapa banyak kira-kira perputaran uang yang dihasilkan dari tata niaga kuliner itu? Belum lagi transaksi yang terjadi di restoran, kafe, mal, dan hotel.

Sekadar gambaran, menurut Bank Indonesia, perputaran uang selama Ramadan tahun lalu saja mencapai sekitar Rp700 triliun. Tahun ini angkanya mungkin tidak jauh bergeser. Dari uang ratusan triliun itu, tentu saja sebagian berasal dari pedagang kolak, gorengan, lontong, cilok, es cendol, cincau, serta dua menu pendatang baru yang kata anak sekarang sedang ngehit, es milo kepal dan thai tea alias teh thailand.

Pergerakan ekonomi umat itu tentu saja ikut menyumbang pada produk domestik bruto (PDB). Sekecil apa pun, mereka berkontribusi bagi pertumbuhan industri makanan dan minuman yang menurut data Kementerian Perindustrian pada triwukan III 2017 jumlahnya mencapai 9,64%, atau naik jika dibandingkan dengan pencapaian di triwulan sebelumnya yang sebesar 7,19%.

Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan mencatat industri makanan dan minum­an mampu menyumbang PDB dari sektor nonmigas pada triwulan III/2017 sebesar 34,95%, atau tertinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya, seperti industri barang logam dan komputer.

Jadi, jangan pernah menyepelekan kolak, cendol, cincau, dan kawan-kawan. Kalau perlu, kita mengangkat derajat mereka, mengemasnya dengan apik, dan mengekspornya ke luar negeri, seperti teh thailand yang kini ’menginvasi’ kota-kota besar di Indonesia.
Sebagai negeri kaya kuliner, kita sebenarnya tidak kalah, kok, dengan negara lain, hanya mungkin kurang pandai untuk mengemas dan mempromosikannya dengan baik. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya