Bulog Masih Pelajari Impor Beras

Erandhi Hutomo Saputra
21/5/2018 16:37
Bulog Masih Pelajari Impor Beras
(ANTARA)

IZIN impor beras sebanyak 500 ribu ton dari Kementerian Perdagangan yang berlaku hingga Juli belum disikapi oleh Perum Bulog. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengaku masih mempelajari apakah akan mengambil jatah impor tersebut atau tidak.

Sebelum memutuskan, lanjut Buwas, ia akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Mentan Amran Sulaiman, serta Komisi IV dan Komisi VI.

"Kita kan punya kewenangan untuk evaluasi perintah itu, artinya kita tidak serta merta ada perintah impor kita langsung lakukan impor," ujar Buwas dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR Jakarta, Senin (21/5).

Belum diputuskannya akan impor atau tidak itu karena Buwas menilai stok beras saat ini masih dalam kondisi aman untuk puasa dan lebaran. Ia menyebut stok beras Bulog saat ini mencapai 1,4 juta ton.

"Kalau (stok) terlalu banyak (beras) tidak terserap akan rusak, kualitas akan turun, terus yang rusak diapakan? kalau diserahkan ke masyarakat kan gak bisa, harga dan mutu harus terjamin ini sedang kita carikan solusinya gimana," jelasnya.

Jika nantinya diputuskan untuk impor, Bulog akan terlebih dahulu melihat kebutuhan beras di masing-masing Provinsi. Setelah itu baru menentukan dari negara mana beras tersebut diimpor. Buwas tidak ingin stok beras impor menumpuk sehingga menurunkan kualitas beras dan membuat Bulog rugi.

Sebab selama ini menurutnya beras yang diimpor tidak sesuai dengan selera masyarakat. Ia mencontohkan masyarakat di Jawa lebih menyukai beras asal Thailand karena pulen. Sebaliknya masyarakat di Sumatera dan Kalimantan lebih memilih beras Vietnam karena lebih keras (pera).

"Jumlahnya kita beli sesuai jumlah (kebutuhan), jangan seperti sekarang begitu impor yang pera untuk Jawa ya gak ada yang laku, akhirnya timbul komplain kenapa berasnya gak enak," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya